Kebangkitan Kembali Kopi Priangan: Bagian 3

Klasik Beans dan Kebangkitan Kembali Kopi di Tanah Sunda

Kopi di tanah Sunda seolah terlahir saat pemerintah memberikan bantuan dana kepada masyarakat melalui program KUT pada 1997-an melalui koperasi. Petani yang ingin meminjam KUT harus melalui koperasi terlebih dahulu. Hal tersebut menyebabkan banyak “koperasi dadakan” yang tak berlangsung lama. Masyarakat berbondong-bondong ke hutan membuka lahan pertanian demi tujuan menyerap anggaran. Kebanyakan dari mereka adalah tukang ojek dan pemilik warung yang notabene bukan orang yang ahli dalam bidang pertanian. Mereka mengganti tanaman kopi dengan sayur-sayuran.

Tanpa adanya keterampilan dan pendampingan dari pemerintah, banyak hutan di Jawa Barat menjadi rusak dan nyaris ditinggalkan. Pada tahun berikutnya, pertanian di Indonesia mengalami keterpurukan akibat krisis multidimensi. Kredit usaha tani pun dicabut. Untuk mengatasi lahan kritis yang ditinggal para petani, pada 1998 Perhutani berusaha mengembalikan fungsi hutan melalui program Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). Pemerintah Jawa Barat, melalui gubernur mengajak para petani untuk kembali mengelola hutan melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Pada saat itu tanah Sunda masih belum menemukan jati dirinya, seperti yang diungkapkan salah satu pengurus koperasi lokal. Tiap petani memiliki aspirasi berbeda-beda dalam memilih  tanaman yang akan ditanam, seperti; kapol, nila, kopi, jarak, dan sebagainya. Masyarakat cenderung mencoba-coba tanpa adanya pasar yang jelas. Dari semua aspirasi tanaman, kopi lebih menarik untuk ditingkatan para petani.  Sementara kapol, nila, dan jarak cenderung kurang produktif. Tak ada pihak yang mengorganisir di tingkatan daerah dan ketika musim panen tiba, kopi diolah ala kadarnya hingga berbentuk beras (green bean). Ditimbun berbulan-bulan hingga datang tengkulak yang membawanya ke Medan dan Surabaya oleh para tengkulak. Kopi tanah sunda seolah kehilangan identitas. Tanaman kopi cenderung ditanam dengan sistem tumpang sari.

Pada 2000-an, Eko Purnomowidi, salah satu tenaga ahli dari Volkopi pada masa itu, menemukan kopi dari luar Sumatera yang dijual oleh tengkulak dengan mengatasnamakan kopi Sumatera. Atas desakannya, tengkulak tersebut mengaku bahwa ia membawa kopi tersebut dari tanah Sunda. Tak lama setelahnya, ia mengontak salah satu rekan dari  Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia (PGPI) yang ia temui saat menjadi sukarelawan bencana tsunami di Aceh.

Kemudian Eko bersama para pecinta alam PGPI melakukan riset lapangan selama kuranglebih 3-6 bulan pada 2008. Pada saat itu, kebanyakan petani mengolah kopinya dengan peralatan seadanya. Mayoritas petani di tanah Sunda memandang kopi melalui “persepsi komoditas” dan volume, dimana kopi dipandang bukan untuk dikonsumsi, sehingga kopi yang dihasilkan para petani berkualitas rendah. Kopi yang dipanen dibiarkan begitu saja di dalam goni hingga datang tengkulak.  Dalam segi penanaman pun kebanyakan tanaman kopi milik petani mati setelah melakukan 2-3 kali pemanenan. Namun, terdapat pula beberapa petani yang mampu mengolahnya dengan caranya sendiri.

Setelah dipastikan bahwa Jawa Barat merupakan tempat yang cocok untuk membudidayakan kopi, dibentuklah Koperasi Klasik Beans. Melalui Klasik Beans, Eko dan rekan-rekannya melakukan pendampingan terhadap para petani kopi di tanah Sunda pada pertengahan 2009. Sebagai langkah awal, Klasik Beans mendatangkan para agronom dari Guatemala dan Costarica untuk mensosialisasikan bagaimana standard menanam kopi yang benar kepada masyarakat. Para agronom bilang bahwa para petani harus “back to zero”. Karena jauh sebelum Lampung, Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Papua, ketika berbicara kopi Indonesia, maka Java Preanger yang dibudidayakan di Gunung Guntur dan Gunung Halimun.

Selain memberi penjelasan historis kopi di tanah Sunda, para agronom yang didatangkan tersebut mengajarkan bagaimana cara mencari induk tanaman yang memang layak untuk dibudidayakan, cara menyediakan media untuk di polibag, penanganan dari polibag ke lapangan serta penanganan setelahnya secara organik. Upaya yang dilakukan Klasik Beans tak langsung mendapat tanggapan serius dari para petani. Selanjutnya Klasik Beans membuat demplot-demplot percontohan tanam di setiap daerah dengan bekerja sama dengan perhutani.

Klasik Beans diberi hak izin untuk mengelola lahan milik perhutani. Tanah tersebut kemudian diserahkan kepada petani untuk dikelola dengan menggunakan tanaman kopi. Selain itu, Klasik Beans juga membagikan bibit tanaman kopi serta pohon lindung secara gratis kepada para petani. Dalam melakukan pembibitan, agronom yang didatangkan Eko mencari bibit-bibit yang tertanam di Jawa Barat. Sejak 2010, jumlah bibit kopi yang terdistribusi di seluruh area perkebunan Klasik Beans di Jawa Barat lebih kurang sebanyak 150.000 pohon. Agar para petani tertarik untuk terlibat dalam proyek yang dijalankan Klasik Beans, mereka menjamin kejelasan pasar dari kopi yang ditanam petani.

Dari pendampingan yang Klasik Beans lakukan sejak pertengahan 2009, pada 2011 mereka berhasil mengunduh panen pertamanya sebanyak 4 ton. Di tahun berikutnya panen mereka mengalami lonjakan kuantitas dengan kualitas tetap terjaga, yakni 150 ton pada 2012,  dan kurang lebih 500-600 ton pada 2013. Jumlah tiap panen tersebut merupakan 12% dari total kopi yang dihasilkan oleh petani yang didampingi Klasik Beans. Hampir keseluruhan panen tersebut mereka ekspor ke berbagai negara seperti; Amerika, Jepang, dan beberapa negara di Benua Eropa. Dilihat dari tingkat kenaikan produksi kopi tersebut, bukan tidak mungkin kejayaan kopi di tanah Sunda sebagaimana masa kolonial.

Simpulan

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan budidaya dan produksi kopi di tanah Sunda adalah tingkat kesinambungannya. Sebut misalnya pada zaman kolonialisme Belanda, penuruan budidaya dan produksi kopi, selain dikarenakan serangan hama penyakit juga karena harga beli belanda tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan oleh petani. Karena pada prinsipnya, ciri dari pertanian yang berkesinambungan adalah mantap secara ekologis, berkelanjutan secara ekonomis, adil, manusiawi dan, luwes (Pujianto; 2007).  Pertumbuhan budidaya dan produksi kopi yang dilakukan oleh Klasik Beans mempertegas bahwa dimensi ekologis, ekonomis, adil, dan manusiawi sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kopi di tanah Sunda.

 

Referensi yang Dikutip

Breman, Jan. Preanger Stelsel: Tanam Paksa Kopi di Pasundan. Arsip Ranesi-RNW. 15 Oktober 2010

Clarence-Smith, W. G adn Steven Topik.  The Global Coffee Economy in Africa, Asia, and Latin America 1500-1989. United Kingdom: Cambridge. 2003

Muhsin, Mumuh Z. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Tatar Sunda: dari Masa Tarumanegara s.d. Masa Kolonial Belanda. Makalah disampaikan dalam Kursus Sejarah Sunda denga kerjasama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Universitas Padjadjaran dengan Majalah Mangle 19-24 Maret 2007

Niel, Robert Van. Sistem Tanam Paksa di Jawa, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 2003.

Pujianto. Arah Menuju Produksi Kopi Berkelanjutan; Heading Toward Sustainable Coffee Production. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2007

Ricklefs, M. C.  Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2011.

Robet, Hamzah. Presentasi di @america, From Sunda to San Francisco: The Journey of Indonesian Coffee. 2013

Simbolon, Parakitri T. Menjadi Indnesia, Jakarta: Grasindo Kompas. 2006.

Zuhdi, Susanto. Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan Di Jawa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2002.

Wawancara dengan Deni Glen Klasik Beans di Gunung Puntang.

Wawancara dengan Eko Purnomowidi Klasik Beans di Gunung Puntang.

 

*Ngabdulloh Akrom @catur_warna, merupakan peneliti di Philocoffee Research Center, sebuah lembaga penelitian multidisipliner mengenai kopi, yang berkedudukan di Jakarta.

3 thoughts on “Kebangkitan Kembali Kopi Priangan: Bagian 3

  1. Kami sebut saja KOPI PARAHYANGAN. Memang Kopi terbaik di Dunia.
    Di Parahyangan ada pohon kopi yang berusia kurang lebih 100th. Itulah sebagai bibit Kopi terbaik di Dunia. Kami bersama masyarakat beberapa tahun yang lalu sudah memulai menggarap 700 hektar lahan & sekarang sebagian kebun sudah mulai berbuah.
    Hidup KOPI PARAHYANGAN, minuman Para Raja di Seluruh Dunia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s