Kopi Itu Monumen Historis

Kopi itu monumen historis. Ia merekam berbagai perjalanan manusia yang menyapa kehidupan selama berabad-abad. Narasinya menangkap soal politik sampai religiusitas. Pada titik tertentu, dunia yang berjalan seperti sekarang juga ikut dibentuk oleh kopi. Pernah pada masanya kopi dekat dengan legenda kaum sufi. Pada masa lain, ia mendorong terciptanya Preanger Stelsel, pengondisian bekerja terhadap manusia yang sebelumnya bebas menjadi tidak bebas. Kopi juga ikut memicu Revolusi Industri ketika para buruh menjadikan kopi sebagai pengganti minuman beralkohol.

Kopi pernah berada di ranah politik. Ia dikecam di mana-mana lantaran melalui kopi terciptalah lokus sosial alternatif. Ketika para perempuan pada zamannya tidak dianggap sebagai hal yang berpolitik yang membuat rumah sekadar ranah domestik nonpolitis, para lelaki mulai menjadikan kedai kopi sebagai wahana politis. Laki-laki mulai membicarakan dan mengkritik kekuasaan para pembesar di luar rumah: di berbagai kedai kopi. Para pembesar, yang kupingnya memerah ketika mendengar suara sumbang muncul dari lokus sosial baru tersebut, mulai melarang dan menutup berbagai kedai kopi yang dianggap berembrio subversif.

Kopi pernah menjadi primadona komoditas. Pengkoloni yang pada masanya mengemban visi mitik messianistik mulai menanam kopi di berbagai lahan koloninya. Salah satunya di Jawa. Kolonialis Londo tak patah arang ketika uji coba pertama pembudidayaan kopi gagal di Batavia. Mereka mencoba menanamnya di Tanah Priangan. Kelak, dari tanah Priangan inilah sumber pasokan kopi dunia terpenuhi secara signifikan. Untuk memenuhi permintaan dunia, kolonialis Londo tersebut merekacipta preanger stelsel.

Kopi pernah memelekkan para penghuni pondok-pondok yang menggembleng dirinya di jalan spiritual. Dalam setiap lantunan ilahiah yang memancar dari bilik-bilik pondok terdapat al-ruh al-qahwa, ruh kopi. Mereka terjaga pada malam hari untuk mengidungkan Yang Maha Pecinta dengan sintas akibat meminum kopi. Di sisi lain, segelintir mahaguru tarikat tasawuf ikut mengenalkan kopi ke dalam kehidupan masyarakat yang menjadikan bahasa Arab sebagai lingua franca.

Philo 1

Kopi memuat narasi orang-orang pintar. Di Eropa, pada Zaman Reneisans sampai Pencerahan, orang-orang pintar seperti filsuf dan pemikir-bebas bisa ditemukan di dua tempat: kedai kopi dan tempat pangkas rambut. Kopi dalam dirinya merekam berbagai perdebatan persoalan ilmu pengetahuan. Sebagian hipotesis sampai teori ilmu pengetahuan terkukuhkan ketika para pencetusnya berasyik-masyuk di kedai kopi.

Kopi mencatat dengan baik guratan-guratan wajah letih dan keok dari penanamnya. Nilai surplus yang dihasilkan para petani kopi terhisap lubang-lubang pengakumulasi kapital. Di dalam kopi, para petaninya nyaris seluruhnya adalah subaltern. Terdapat jurang di antara penanam dan peminum. Di tengah geliat transformasi konsumsi kopi yang terjadi di dalam gaya hidup masyarakat perkotaan, kopi sedemikian tereifikasi.

Kopi pada masa kekinian menyaksikan pergeseran gaya hidup yang sama sekali baru dari para pengonsumsinya. Kopi menyembulkan disposisi kultural dalam transformasi konsumsi masyarakat kontemporer. Kopi yang dihadirkan pada ruang tertentu bisa membuat demarkasi sosial terhadap kopi yang hadir di warung bubur kacang ijo.

*****

Kopi itu tidak berbicara. Para peminumnyalah yang berbicara melalui kopi. Kopi hanya monumen. Para penggandrung kopi bisa berbicara mengenai perihal tasawuf melalui kopi. Kopi bisa memerlihatkan rekaman kolonialisme jika peminumnya menuturkan hal tersebut melalui diri kopi. Bagaimana manusia menyapa kopi itu sendirilah yang menjadikan kopi memiliki berbagai narasi. Kopi hanyalah minuman pahit berkafein jika peminumnya menganggap kopi sekadar hal tersebut. Kopi itu monumen historis jika kita bersedia menyibaknya.[]

2 thoughts on “Kopi Itu Monumen Historis

  1. Pingback: Kebangkitan Kembali Kopi Priangan: Bagian 1 | Philocoffee Project

  2. Pingback: Ranah Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s