Menyingkap Blue Bottle Coffee

James-WSJ-300x200

Sebelum kopi spesialti terbuka keran aksesnya, banyak para peminum kopi yang sebelum tumbuh bersama kopi sasetan, kopi instan, atau kopi kalengan. Tak terkecuali James Freeman, salah satu pendiri Blue Bottle Coffee, sebuah perusahaan penyangraian kopi dan kafe di Amerika Serikat. Dalam buku yang dia tulis bersama Caitlin Freeman dan Tara Duggan dengan judul The Blue Bottle Craft of Coffee: Growing, Roasting, and Drinking, with Recipes, Freeman menuturkan, “For those of us raised with the idea that coffee is a dark powder that comes in a can, it’s easy to forget that coffee actually comes from a fruit that grows on tress and is subject to seasonality and harvest cycles.” Apa yang dialami Freeman, juga dialami oleh kami, dan barangkali juga dialami oleh sebagian besar peminum kopi spesialti lainnya, bahwa kita telah melupa.

Perjalanan yang dituturkan selalu saja menyelipkan hal menarik yang bisa ditemukan ketika kita dengan saksama menelusurinya. Cerita yang bisa mengajak kita untuk menggapai makna bisa berasal dari mana saja, baik dari kalangan subaltern sekalipun. Anda bisa bercermin untuk menengok sejenak mengenai sosok diri sendiri melalui cerita orang lain bahkan dari hewan seperti fabel. Kegagalan dan keberhasilan serta rintangan dan keberhasilan dalam mengatasi aral yang disampaikan dalam cerita sedikit banyak bisa kita ikut rasakan, paling tidak getarannya. Sebelum manusia memasuki fase tulisan secara umum, selama ribuan tahun manusia tumbuh kembang dalam tradisi lisan. Manusia mengenali hidup melalui cerita. Zaman telah berubah. Cerita disampaikan dalam bentuk teks. Meski perubahan terjadi, manusia sebagai makhluk yang haus, atau suka, dengan cerita tetap bersemayam. Meme-nya tetap, mediumnya berubah.

Freeman tidak berhenti pada bagaimana dia meletakkan masa lalu di belakang petualangannya, melainkan ia menghadirkan yang lalu dalam konteks kekinian. Bagaimana pengalaman yang dia jumpai pada akhirnya memengaruhi dia dalam melihat kopi. Dia berbagi alur waktu ketika dia melakukan proses pembelian ke sentra produksi langsung sembari membayangkan bagaimana pelanggannya akan senang lantaran diceritakan bagaimana para petani berjuang untuk menghasilkan kopi yang berkualitas yang sedang diseruput sang pelanggan. Freeman menyadari bahwa relasi kolaboratif merupakan hal yang tidak bisa ditawar untuk mendapatkan kopi yang berkualitas secara berkepanjangan dan menguntungkan semua node yang ada. Karena alasan itu dia menampilkan dua sosok profil petani rekanannya dalam buku ini. Node rantai pasokan dan nilai yang semrawut dia urai: dengan tujuan agar konsumen dan produsen bisa melihat satu sama lain lebih dekat.

Kafe Blue Bottle menurut Freeman dihidupkan pertama kali per hari oleh sang penyangrai atau roaster. Sang roaster datang lebih awal mendahului sang office boy. Aktivitas roaster diceritakan dengan rinci olehnya. Suasana dan riuh rendah awak Blue Bottle tak luput dipaparkan–termasuk awak dapur pembuatan camilan. Di sini Freeman juga berbagi resep tidak hanya pembuatan espresso beserta turunannya dan manual brewing, tapi juga camilan ala Blue Bottle. Dengan membaca buku ini, bagaimana menjalankan suatu kafe dan memerhatikan bagaimana kualitas produk beserta pelayanannya menjadi terbentang. Dan, membacanya merupakan perjuangan melawan lupa bahwa coffee actually comes from a fruit that grows on tress and is subject to seasonality and harvest cycles. []

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s