Kilasan Perkembangan Manual Brewing di Indonesia (2010-2012)

Perubahan bentuk konsumsi dan disposisi kultural merupakan inti dinamika gaya-hidup. Di ujung 2012 ini, kita menyaksikan lonjakan semacam itu di dalam ranah kopi spesialti. Pada 2010, ketika kami menyiapkan proyek Kopi Kelana di Bandung, baik di Jakarta dan Kota Kembang tersebut, kafe yang menyodorkan gawai penyeduhan manual (manual brewing) bisa dihitung dengan jari. Dari segi alat pun terbatas pada syphon dan pour over serta vietnam drip. Perlu dicatat, pada transformasi ini, kami mengeksklusikan gawai french press dan moka pot lantaran dua alasan: 1) artefak kultural tersebut tidak memunculkan nomenklatur “manual brewing” di tingkat epistemic community kalangan pegiat kopi; dan 2) tidak menyebabkan transformasi kultural dan konsumsi yang signifikan. Pada tulisan berikut, secara singkat kami hendak menunjukkan titik-titik estafet perjalanan gawai manual brewing di Indonesia.

IMG_9292

Kegiatan yang terkait dengan gawai penyeduh kopi nonespresso (manual brewing) baik secara teoretik maupun praktik sejak 2012 memerlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Hal tersebut bisa dilihat dari tanda-tanda representasional yang mencuat ke permukaan. Misalnya, munculnya kelas-kelas singkat terkait manual brewing (secara umum biasanya pour over, syphon, dan french press), lomba manual brewing, diskusi-diskusi kecil mengenai membuat kopi di rumah, linimasa di Twitter yang membahas manual brewing oleh para pecinta kopi, talk show, blog, liputan media massa, kemudahan akses dalam mendapatkan berbagai gawai manual brewing, beberapa kafe yang menyertakan metode manual brewing ke dalam menu, bahkan kafe yang total menggunakan gawai manual brewing mulai hadir, dan seterusnya.

Hal tersebut menjadi lebih menarik jika kita menyorot waktu dua tahun ke belakang. Pada 2010, dari segi kafe, kedai kopi modern yang bertumpu pada gawai manual brewing termasuk langka. Dari segi praktik manual brewing di rumah pun tergolong rendah lantaran produk gawai manual brewing masih terbatas pada french press dan dripper. Dari segi perbincangan di dunia maya, hal itu juga tergolong kecil. Kedai kopi yang bertumpu pada mesin espresso masih memosisikan gawai manual brewing sebagai pelengkap, tidak independen. Hal itu bisa dilihat dengan ketersediaan fasilitas yang mendukung kerja tersebut, mulai dari grinder, arena kerja, profil sangraian biji kopi, menu, kedayatahanan dan kualitas produk gawai yang digunakan, dll.

IMG_8962

Pada 2011, meski perkembangan lamat-lamat, sehingga tidak jauh berbeda pada 2010, ada beberapa hal menarik yang kelak ikut memacu perkembangan manual brewing pada 2012. Dari segi kafe, pada 2011,  yang menyediakan gawai manual brewing sebagai metode seduh dalam sajiannya mulai bertambah. Yang menarik, segelintir kedai kopi modern ada yang membuka kedainya sejak awal hanya bertumpu pada gawai manual brewing. Diskursus mengenai manual brewing mulai bocor ke luar tembok Jakarta. Pada tahun ini juga Kompetisi Barista Indonesia dilakukan di beberapa kota selain Jakarta yang mendongkrak pertukaran informasi di kalangan penggandrung kopi mengenai perkembangan yang terjadi di dalam dunia kopi Indonesia, salah satunya adalah soal manual brewing. Dari segi gawai, sudah mulai beragam meski dalam skala terbatas. Sebaran gawai di berbagai tempat di Indonesia mulai meluas meski dari segi individual tidak sebesar pada tahun berikutnya. Blog yang membahas kopi pelan-pelan mulai bertambah. Dari segi roast profile masih belum mengarah pada gawai manual brewing tertentu. Diskusi-diskusi mengenai manual brewing baik tatap muka maupun dunia maya belum semarak.

Manual brewing di Indonesia mengalami babak baru sejak 2012. Itu ditandakan dengan mulainya berbagai roaster, baik baru dan lama, yang memerhatikan bagaimana daya kerja gawai manual brewing dapat memengaruhi karakter kopi yang diseduh. Para roaster mulai memerhatikan roast profile yang beragam terhadap satu kopi. Dari segi kafe, kedai kopi mulai memasukkan manual brewing sebagai menu dan sebagian sudah menjadikannya sebagai salah satu menu utama. Dari segi penikmat kopi di rumah, gawai manual brewing semakin dikenal dan sebaran wilayahnya semakin meluas serta dari segi kuantitas pemakai bertambah. Kedai kopi yang mengutamakan gawai manual brewing semakin tumbuh. Dari segi konsumen biji kopi, mereka sudah mulai kritis terhadap usia sangrai kopi yang dibeli serta profil sangraiannya. Konsumen kopi sebagian besar lebih memilih medium roast dan beberapa bagian kecil memilih light roast untuk dikonsumsi di rumah. Kelas-kelas manual brewing semakin meningkat dari segi kuantitas. Talk show membahas gawai pun meningkat dari jumlahnya. Beberapa organisasi bahkan mengundang orang-orang kopi yang memiliki kapabilitas untuk datang ke tempat mereka membicarakan bagaimana menyeduh kopi dengan gawai manual tersebut. Media massa baik cetak dan elektronik menjadikan kopi sebagai salah satu berita yang diburu. Lomba manual brewing mulai dilakukan. Singkat kata, pada 2012, Indonesia sedang menyaksikan transformasi gaya-hidup kopi, kelahiran babak baru. Bagaimana dengan perkembangan manual brewing pada 2013? []

S-coffeemill mini 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s