Pra-Festival Kopi Indonesia 2012

Kopi dan Tanah Priangan merupakan titik krusial untuk memahami sejarah awal perkebunan  kopi dan kolonialisme di Indonesia. Tidak seperti yang diduga selama ini, Sistem Tanam Paksa atau yang disebut pihak Belanda dengan Kultuur Stelsel merupakan sistem lanjutan dari Preanger Stelsel.  Sistem ini hanya diterapkan di Tanah Priangan sekitar sejak 1720, sementara Kultuur Stelsel dilangsungkan sekitar pada 1830 di berbagai tempat di Pulau Jawa. Dan, komoditas yang dibudidayakan dalam Preanger Stelsel adalah kopi, bukan tebu atau indigo. Itulah alasan historis mengapa kopi dari Tanah Priangan disebut sebagai Preanger Coffee. Dalam kajian sejarah Indonesia, masih sedikit pembahasan diarahkan ke Preanger Stelsel. Padahal, Preanger Stelsel sangat penting untuk mehamahi sejarah perkebunan kopi dan kolonialisme di Indonesia.

Agaknya hal semacam itu yang menjadi dasar mengapa pra-Indonesian Coffee Festival diadakan di Bandung. Menurut Hermawan Rianto, salah satu penggagas acara ini, dalam wawancara dengan kami mengatakan bahwa,

Indonesian Coffee Festival itu sebenarnya sebuah festival budaya, dalam hal ini budaya ngopi. Budaya ngopi tidak pernah lepas dari trend, gaya hidup, dan dampak dari situasi sosial. Kopi mengiringi suatu latar belakang situasi sosial…Kopi lebih pada culture. Festival ini mencoba mengumpulkan budaya yang terbentuk dalam praktik minum kopi.

Sebagaimana yang terjadi di dalam historiografi sejarah kolonialisme di Indonesia, artefak-artefak atau materi-materi yang merepresentasikan soal sejarah Preanger Coffee juga tidak hadir di dalam acara Festival Kopi Indonesia ini, pada 23 Desember 2011. Acara yang secara formal dimulai dari jam 2 siang sampai jam 9 malam ini, sekitar 7 jam, memberikan porsi untuk bincang-bincang soal kopi (coffee talk) kurang lebih sekitar 45 menit. Sisanya, diisi dengan acara musik, pementasan wayang, demonstrasi alat penyeduhan kopi, latte art, dan pameran produk-produk terkait kopi dari berbagai partisipan dari daerah, terutama Jakarta dan Bandung, yaitu, Kedai Kopi Mata Angin, Green Field, Roswell, Kota Kopi, Careuh Coffee, Warung Kupi Gayo, Toko You, Tree House Café, Morning Glory, Phoenam Coffee, Kopi Kamu, Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, Rolas Café, Bandar Kopi, IndoPresso, Genesis Coffee, Denny’s Coffee, Warung Kopi Tenda, dan Pasar Tong-Tong.

Kami mewancarai para pengunjung secara acak mengenai alasan dan harapan mereka datang ke acara festival ini. Sebagian berharap mendapatkan informasi terkait cara penanaman kebun kopi, proses pascapanen, permasalahan soal petani, proses roasting, dan hal sejenisnya. Sebagian lagi penasaran dengan dunia barista dan ingin mencoba kopi dari berbagai kawasan di Indonesia. Dan, sebagian juga ada yang datang karena hendak menonton pertunjukkan musik dari Toni-Q.

Festival ini dibuka secara resmi oleh Dede Yusuf, wakil gubernur Jawa Barat. Dede mengajak para pengunjung untuk mengangkat gelas kopi dan meminumnya sebagai hal simbolik untuk membuka acara ini. Sebelum membuka, Dede menuturkan soal kebiasaan meminum kopi dirinya serta penekanan dia akan proses yang harus dicapai oleh petani untuk meningkatkan pendapatan para petani, dalam hal ini memproses kopi sampai pada tahap gabah kopi, tidak hanya gelondong merah. Dede juga menuturkan soal peran pemerintahan daerah Jawa Barat dalam mendorong pengembangan perkebunan kopi di Jawa Barat.

Festival Kopi Indonesia, sebagaimana yang dikatakan oleh pihak penyelenggara, merupakan Festival Budaya yang bertujuan merangkum praktik-praktik yang terjadi di dalam meminum kopi. Konsep semacam ini sangatlah manjur dalam menyedot perhatian warga Bandung untuk berdatangan ke festival ini.[]

7 thoughts on “Pra-Festival Kopi Indonesia 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s