Masa Depan Kopi Robusta di Indonesia (Seri KKK, Vol. I)

Kopi robusta merupakan kopi yang sejauh ini terposisikan sebagai kelas kedua dan bahkan anak tiri dibanding dengan kopi arabika. Dari segi pengembangan kualitas, robusta kalah jauh. Para pecinta kopi lebih familiar dengan kata speciality coffee dibandingkan fine robusta. Kopi robusta selalu diidentikkan dengan tak berkelas, kopi murah, pahit, tidak menarik dari segi cita rasa, dan paling banter sekadar pelengkap dari produk house blend. Ketidakfamiliaran tersebut merupakan hal jamak mengingat gagasan mengenai fine robusta baru dikembangkan sejak 2009. Fine robusta merupakan nama penanda kualitas sekaligus gagasan dan seperangkat protokol dalam mencapai kualitas prima yang mampu diraih oleh kopi robusta, sebagaimana dengan gagasan speciality coffee pada arabika. Kopi robusta yang berkualitas paripurna itulah yang kelak disebut sebagai fine robusta. Dari segi skor, fine robusta pun serupa dengan arabika spesial, yakni di atas 80.

Proyek lepas-landas terhadap kopi robusta pertama kali diterapkan di Uganda. Alasan dipilih Uganda lantaran negeri itu tempat ulayat kopi robusta. Dikembangkan dan digagas pertama kali oleh Coffee Quality Institute (CQI) yang berkolaborasi dengan Uganda Coffee Development Authority (UCDA) dan didukung oleh USAID LEAD Project. Tujuan protokol robusta adalah untuk menambah nilai pada kopi robusta. Sejauh ini, cacat pada kopi robusta sebagai komoditas maksimal sampai 450, sementara arabika spesial adalah 8. Nominal cacat di antara kedua spesies tersebut berjarak jauh yang pada akhirnya membuat robusta menjadi anak tiri dalam kopi berkualitas. Melalui protokol robusta itulah spesies kopi yang paling banyak diproduksi di Indonesia ini bisa diproses sampai dengan tingkat cacat yang sangat minim.

Menurut Adi W. Taroepratjeka, pemateri diskusi keempat dari seri Klub Kajian Kopi (KKK), Vol. I, pada 17 Desember 2011, menyatakan bahwa kopi robusta bisa memiliki karakter rasa yang menarik jika proses penanaman dan pascapanennya tepat guna. Pecinta kopi bisa mendapatkan karakter fruity bahkan mentimun dan accidity pada robusta berkualitas fine. Misalnya, petik merah, sortasi dengan meminimalisir cacat sedikit mungkin, dll. Hemat kata, kopi robusta jika diproses dengan baik, maka ia bisa memberikan citarasa yang menggoda keingintahuan.

Belum lama, di Indonesia diadakan pelatihan dan pemberian sertifikasi R-Grader. Menurut Adi, selama pelatihan itu, Ted Lingle dari Coffee Quality Institute mengakui bahwa kopi robusta dari Indonesia memiliki potensi sangat tinggi dan menjanjikan lantaran dari setiap daerah penghasil memiliki citarasa yang berbeda satu sama lain. Bagi Adi, ke depan, Indonesia memiliki potensi sebagai salah satu penghasil fine robusta terbaik di dunia. Tapi, Adi buru-buru menegaskan perjalanan fine robusta masih panjang dan memiliki banyak rintangan. Misalnya, adakah pasarnya? Adakah yang mau membeli? Ketika robusta berpredikat fine, mau tidak mau dari segi harga akan meninggi. Selain itu, dari kondisi sosial juga perlu diperhatikan. Misalnya, ada beberapa petani yang kebun kopinya terancam tercuri jika tidak dipetik sesegera mungkin jika telah berbuah meski masih hijau atau belum dominan merah. Buah kopi pada kenyataannya tidak memerah serempak. Dengan begitu, ketika hanya memetik buah merah saja, maka akan ada yang tersisa. Yang tersisa itulah kerap tercuri. Belum lagi soal iklim. Beberapa petani ketika melakukan penjemuran pada musim penghujan memberikan pupuk urea untuk mengeringkan biji kopi. Bahkan ada petani yang menjemur biji kopi di jalanan yang juga bertujuan untuk mengelupas parchment kopi begitu dilintasi kendaraan besar seperti truk atau hulling  a la tergilas ban.

Protokol robusta di mana seperangkat penilaian uji mutu untuk kopi robusta itu sendiri, pun masih dalam tahap pensosialisasian, atau dengan kata lain masih seumur jagung. Dari segi aplikasi pun perlu dilihat secara konteks agar tepat guna. Betapapun, satu hal yang menggembirakan disampaikan oleh Adi W. Taroepratjeka dalam diskusi ini adalah soal harapan bahwa Indonesia memiliki khazanah terpendam untuk kopi robusta. Adi percaya bahwa jika kita sedari sekarang menginginkan bahkan menuntut dan mau membeli kopi robusta berpredikat fine, maka masa depan kualitas kopi robusta di Indonesia pun semakin berkembang ke arah yang baik dan bisa menjadi primadona.[]

7 thoughts on “Masa Depan Kopi Robusta di Indonesia (Seri KKK, Vol. I)

  1. Karena lidah saya sedari kecil hanya terpapar Kopi Robusta justru Kopi Arabika-lah yang terasa “cacat”, hahaha.. Oke, mudah2an Kopi Robusta bisa lebih dihargai.. ^^

    Wah, menarik sekali pendapat Bapak. Sebagaimana ada relativisme kultural, begitu juga ada relativisme cita-rasa. Sebagian besar orang menganggap Arabika lebih unggul dari segi cita rasa dibanding dengan Robusta. Nah, sikap semacam itu juga kan berdasarkan riwayat sosial dan historis sang peminum. Begitu juga ketika Bapak mengatakan bahwa buat Bapak kopi Arabikalah yang terasa “cacat”. Ditunggu komentar berikutnya, Pak😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s