Supply & Value Chain dalam Industri Kopi (Seri KKK, Vol. I)

Anak kecil perempuan itu ikut asyik memerhatikan orang berbaju hitam yang sedang mencorat-coret sesuatu di cermin besar yang menempel di dinding. Sementara itu, perempuan berkerudung dan lelaki berjaket hitam di sisi anak kecil perempuan itu juga khidmat mendengarkan. Di tengah mereka terdapat dua meja bundar kecil yang di atasnya ada cangkir berisikan air berwarna agak hitam. Di belakang mereka, anak kecil lelaki lagi asyik memelototi iPad di pangkuannya. Perempuan dewasa di samping kiri bocah laki itu fokus ke depan. Lelaki dewasa di kanannya, kadang matanya mengarah ke depan, kadang ke bocah ber-iPad itu. Di penjuru lain, beberapa orang mencatat begitu mendengar sesuatu yang dianggap penting yang disampaikan lelaki berbaju hitam pencoret cermin tersebut. Ada yang mencatat di kertas, ada yang melakukannya di ponsel pintar, dan juga di iPad.

Perempuan berkerudung itu mengacungkan tangan, dia bertanya: PTPN IX & XXII itu berada di posisi mana dalam supply & value chain? Derby Sumule yang menjadi person yang ditanya sekaligus narasumber dalam diskusi kedua dari empat rangkaian seri diskusi Klub Kajian Kopi (KKK), Vol. I, segera menjawab secara demonstratif. Sabtu sore itu, lebih dari 20 orang berkumpul di Jakarta Coffee House, Cipete, Jakarta Selatan, berkumpul berbagi dan berdiskusi.

=====

Apakah membeli kopi langsung ke petani lebih membantu kesejahteraan petani? Apakah ia dapat menghemat biaya? Apakah dengan cara itu pembeli, dalam hal ini roaster, bisa mendapatkan kopi dengan kualitas terbaik? Benarkah rantai pemasokan (supply chain) hanya menguntungkan penengah (middle [wo]man), tidak semua pihak yang berada dalam node-node rantai pasokan? Apa sih rantai pasokan itu? Bagaimana kopi itu bisa sampai ke tangan konsumen akhir? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sebagian dari masalah yang dibahas oleh Derby Sumule dan diajukan oleh peserta di dalam diskusi mengenai Supply & Value Chain dalam Industri Kopi Mutakhir di Indonesia, pada 03 Desember 2011.

Rantai pemasokan secara singkat merupakan sistem pengaturan orang, teknologi, aktivitas, informasi, dan sumber daya dalam konteks perpindahan sebuah produk atau jasa dari pemasok ke konsumen. Dalam hal kopi, itu mulai dari petani kopi, kelompok pengumpul, agen, trader, eksportir, dst., sampai ke konsumen akhir. Derby Sumule, yang merupakan pemilik kedai kopi coffeewar, Kemang, memaparkan panjang lebar soal dinamika supply chain kopi di Indonesia, terutama di dearah Kintamani-Bali, Bajawa-Flores, dan Toraja, Enrekang, dan Bone-Bone-Sulawesi Selatan.

Menurut Derby, belakangan pola pengaturan rantai pasokan kopi mutakhir di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bali, Sulawesi Selatan, dan Flores, mulai menekankan pola pembelian buah kopi gelondong merah (red cherries) ke petani. Dengan demikian, petani tidak ikut melakukan proses pascapanen, kecuali pemetikan. Proses penyediaan biji kopi berkualitas yang dimulai dari gelondong merah dari petani itu dilakukan oleh pengumpul, bisa itu koperasi atau unit pengolah hasil (UPH). UPH atau koperasi yang akan melakukan proses sampai dry/wet parchments atau green beans, bergantung pada pemesanan dari pembeli, itu bisa trader, eksportir, dan roaster. Menurut Derby pola ini selain mampu mendongkrak premi harga di tingkat petani, juga mampu menjaga dan menambah value chain. Selain itu, supply chain yang dikembangkan dengan value chain sedemikian rupa dapat menjaga kesinambungan kuantitas dan kualitas produk. Ujung-ujungnya, hal itu tidak hanya menghemat biaya di tingkat roaster dan konsumen akhir. Apa yang dipaparkan Derby bertolak belakang dengan anggapan umum di Indonesia dengan sitausi dan kondisi khas Indonesia bahwa pembelian langsung ke petani mampu mendongkrak kualitas dan menghemat biaya.

Bagi Derby, pendapat bahwa pembelian langsung ke petani akan menghemat banyak biaya dan menjamin kualitas perlu dicermati dengan kritis sedemikian rupa. Tidak sampai situ, Derby pun mempertanyakan ulang standardisasi bahwa petani harus menjual produknya sampai pada tingkat kopi beras untuk mendapatkan pendapatan lebih. Soal pendapatan lebih itu benar. Tapi, apakah itu signifikan mengingat petani juga harus menambah jam kerja dan mengekstrakan tenaga lebih serta mengeluarkan biaya tambahan? Dengan kata lain, biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk sampai pada tahap kopi beras apa setimpal dengan harga yang didapatkan dibanding dengan ikhtiar petani sampai pada tingkat gelondong merah?

Selain itu, pemotongan atau pemutusan rantai pasokan produk menurut Derby akan mengabaikan hal mendasar: penjaminan. Siapa yang menjamin produk yang disalurkan akan terjaga kualitasnya? Dan, seberapa besar signifikansi harga yang diajukan oleh roaster ke ke petani jika memutus mata rantai saluran tersebut? Siapa yang menjamin risk management-nya?

Derby juga menyebutkan beberapa eksportir mulai dari Indokom sampai Meng Lee dan nama-nama UPH serta person-person yang di berada di dalamnya, seperti Om Gusti dari UPH Wongo Wali, Bajawa, Flores, sebagai node-node dalam supply chain lokal. Termasuk juga yang dipaparkan oleh Derby adalah soal harga-harga pembelian produk kopi mentah di setiap tingkat rantai pasokan.

Selama 2 jam lebih, Derby dan kurang lebih 20 orang peserta berdiskusi. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan lebih dari sekali dan kritis. Bahkan ketika diskusi mau ditutup, tetap ada peserta yang mengajukan pertanyaan, menandakan materi yang disampaikan begitu menarik perhatian para peserta.

=====

Diskusi kedua dari empat rangkaian diskusi dalam Klub Kajian Kopi (KKK), Vol. I, ini turut dimoderatori oleh Awan Kuspriadi dari Komunitas Pecinta Kopi Noesantara (Kopi Koe). Diskusi ketiga, 10 Desember 2011, akan menghadirkan Ronald Prasanto dari Avantie Can Cook, yang mempresentasikan tema Cara Baru dalam Menikmati Kopi: Pengantar pada Gastronomi Molekular.

Betapapun, sampai berjumpa di acara dikusi berikutnya.[]

7 thoughts on “Supply & Value Chain dalam Industri Kopi (Seri KKK, Vol. I)

  1. Pengen sekali hadir disetiap sesi pertemuan KKK…..
    Harusnya kita punya forum diskusi nih….(tolong ya Om philocoffeeproject……hehehe…)

    Menurut saya memang benar sekali apa kata mas Derby, bila petani yang langsung melakukan pengolahan hingga menjadi beras kopi umumnya akan terlalu ribet bagi petani sedangkan penambahan nilainya dengan hitung-hitungan ekonomi malah rugi (nyusahin)…yang paling repot itu adalah saat fermentasi dan pengeringan…bila tidak terkontrol dan tidak dapat panas matahari kualitas kopi yang dihasilkan tidak bagus sehingga kualitas tidak konstan…kadang bagus kadang buruk….apalagi bila kita akan mempertimbangkan langkah untuk menurunkan tingkat pencemaran senyawa biologis yang dihasilkan oleh bakteri dan jamur penghasil ochratoxin (OTA). Penting dibentuk organisasi petani atau organisasi bisnis (swasta) yang dapat mengatur proses pengolahan pasca panen ini pada satu titik di daerah sentra kopi, sehingga proses bisa dilakukan secara terkontrol dan terukur. Menurut saya ada dua alasan mengapa sulit menghasilkan kopi yang berkualitas di tingkat petani; (1) Tidak semua petani paham peranan kontrol dan tolak ukur lainnya dalam tahap fermentasi terhadap rasa dan aroma kopi yang dihasilkan. (2) Periode pengeringan biji kopi setelah dicuci bila hanya mengandalkan cahaya matahari dan peralatan apa adanya sangat berpotensi meningkatkan pencemaran OTA dan over fermentasi.
    Jadi terpaksa di hulu dunia perkopian, proses produksi buah kopi merah hingga menjadi kopi beras dilaksanakan oleh dua pelaku usaha, yaitu petani (hingga buah dipetik) dan pengolah (mengolah kopi merah menjadi hingga menjadi kopi beras).

    Terima kasih atas postingan panjangnya Pak Alfadrian.
    Hal yang Bapak kemukakan juga disampaikan oleh Derby. Intinya sih konteks. Di negeri lain atau daerah lain barangkali efektif bagi petani untuk menjual produknya sampai tahap green beans. tapi tidak semua daerah begitu. jadi butuh tahapan2 tersendiri.

    Like

  2. Yaah ketinggalan informasi nih. Kapan ya ada lagi seperti ini?

    Acara diskusinya berkala, Pak, setiap Sabtu, jam 3 sampai 5 sore. Berkalanya paling tidak untuk volume 1 ini acara dilaksanakan selama 4 minggu berturut-turut. Jika volume 1 ini hasil evaluasinya bagus, bagus dalam artian berdampak positif bagi infratstruktur forum berbagi informasi dan pertukaran ilmu pengetahuan tentang kopi, maka volume keduanya akan segara dibuat awal Januari 2012.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s