Kelas Menyeduh Kopi Non-Espresso di Kopi Javva

Belakangan, para pecinta kopi di Indonesia menyaksikan kebangkitan gelombang akan ketertarikan pada metode penyeduhan kopi nonespresso yang kerap disebut sebagai manual brewing. Kebangkitan tersebut bisa dilihat dari mulai maraknya diadakan kelas-kelas atau acara penyeduhan kopi dengan metode nonespresso sampai kemudahan untuk mendapatkan alat penyeduhan kopi nonespresso. Hal itu merupakan tanda yang menggembirakan. Meski lamat-lamat, ke depan perkembangan informasi soal kopi di tingkat nasional akan terus tumbuh.

Kopi Javva, pada 05 Oktober 2011, mengadakan kelas penyeduhan kopi dengan menyodorkan metode tubruk, french press atau plunger, pour over, dan syphon. Kelas ini dimotori oleh Mia Laksmi, salah satu pemilik Kopi Javva dan jebolan pelatihan uji cita rasa kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember. Kelas ini dihadiri oleh delapan partisipan pendaftar. Kami, Philocoffee Project, bersama Derby Sumule coffeewar datang ketika kelas tengah berlangsung sampai pada metode penyeduhan pour over. Kami melewatkan metode tubruk dan plunger.

Semua partisipan tampak antusias memerhatikan. Semua mata menyorot kepada Mia Laksmi yang tengah mempraktikkan pour over sembari menjelaskan soal optimasi metode penyeduhan tersebut. Selama menjelaskan seputar pour over, beberapa partisipan melontarkan pertanyaan. Semisal, mengapa ketika penuangan air harus berputar? Berapa lama waktu pre-heat? Dan lain sebagainya. Selama penyeduhan berlangsung, terjadi diskusi. Setelah selesai mempraktikkan metode itu, hasil seduhan kopi mulai dibagikan kepada para peserta.

Begitu mencicipi hasil akhir seduhan, Mia melayangkan pertanyaan mengenai rasanya dan juga bertanya apa preferensi para partisipan dibandingkan metode sebelumnya, tubruk dan french press. Bagi para partisipan, hasil seduhan pour over terasa ringan. Dan, semua nyaris sepakat bahwa dari tiga metode penyeduhan yang sudah dilakukan yang enak adalah tubruk lantaran kopi terasa bold. Setelah panjang lebar berdiskusi dan membandingkan hasil pour over, kelas dilanjutkan dengan menjajal syphon.

Mia dengan piawai menjelaskan metode syphon sembari melakukan penyeduhan. Partisipan pun ikut melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Mulai dari mengapa bejana atas syphon tidak langsung dieratkan agar proses vakum terjadi dan berapa lama waktu ekstraksi yang dibutuhkan untuk metode tersebut. Jawaban-jawaban dari pertanyaan menyentuh banyak tema, seperti grind size sampai profil roasting. Ketika masuk pada metode apa yang disenangi para partisipan, sebagian besar menggemari tubruk dan beberapa juga suka dengan hasil syphon. Untuk metode french press dan pour over, semua partisipan tidak ada yang memilih.

Dari kelas tersebut jelas sekali bahwa selera personalitas menjadi tolok ukur dari setiap metode penyeduhan yang ada. Dan membincangkan kopi untuk mencapai hasil optimum merupakan hal yang tidak berkesudahan mengikuti selera personalitas itu sendiri yang mengalami pengembangan dan penyempitan.

Kopi Javva merencanakan kegiatan seperti ini akan dibuat berkala. Agenda mendatang mereka akan mengadakan kelas icip-icip kopi atau coffee cupping. Dengan semakin banyak kegiatan mengenai pembahasan kopi yang dilakukan setiap kedai kopi, maka kita bisa berharap bahwa pada masa mendatang geliat kopi di Indonesia akan semakin dinamis dan berkembang. Apa yang dilakukan Kopi Javva merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan.[]

11 thoughts on “Kelas Menyeduh Kopi Non-Espresso di Kopi Javva

  1. Sayang sekaliii.. Padahal saya datang sebelum acara nya mulai.. Kebetulan ngambil kopi mentah utk dicoba di tempat saya kerja.. Ingin sekali jumpa dengan philocoffee ngobrol”..

    Like

    • Halo Pak Arief. Kami juga berkeinginan untuk bersua dengan Bapak sambil belajar kopi dari Bapak. Semoga kami ada kesempatan untuk menjumpai Bapak.

      Seandainya kami datang lebih cepat, kami bakal bisa menemui Bapak. Kalo gitu, kami tunggu kehadirannya kembali Pak jika ke Indonesia lagi🙂

      Like

  2. bagaimana kalau acara2 kopi tidak hanya berkutat sekitar cup tasting dan metode penyeduhan saja. coba sedikit berbicara tentang industri kopi secara luas, semisal: supply chain, pentingkah kopi bersertifikat? dll.
    terima kasih

    Like

    • Yth. Bpk Rocknrolla,

      Terima kasih atas komentarnya.
      Philocoffee Project sedang menggarapa program kerja terbaru untuk Kerja Desember 2011 dan Januari 2012, yaitu Klub Kajian Kopi (KKK).

      Program klub tersebut salah satunya memang akan mengkaji soal industri kopi seperti supply chain. Singkat kata, dalam KKK, hal cupping dan tata cara brewing akan dilampaui. Nanti akan kami kabari Bapak jika sudah berjalan programnya.

      Like

  3. Wah, kelihatannya mengasyikkan sekali yah🙂 apa ada info kegiatan seperti ini di daerah Semarang/Salatiga dan sekitarnya? Saya sendiri sudah lama sekali ‘mengikatkan’ diri dengan si hitam ini…🙂 dari mulai pourover dripper, plunger, dan sekarang udah dua tahunan dengan setia ditemani oleh alat ciptaannya Om Alfonso🙂
    KKK/Philocoffee project apa ada yang chapter Jawa Tengah? Mohon infonya yah.
    Matur nuwun…

    Like

    • Mengenai informasi kegiatan seperti ini kami belum tahu. Tapi barangkali Bapak bisa mencoba berkunjung ke Blue Lotus Coffee. Informaso terakhir yang kami ketahui, di sana pernah diadakan kegiatan berkumpul utk icip-icip kopi.

      Mengenai Klub Kajian Kopi (KKK), belum ada Pak chapter Jawa Tengah.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s