Mirza Luqman Effendy: Sang Penjelajah Kopi (1)

“Profesi barista seperti seniman yang berani menampilkan karya kepada pelanggannya.”

–Mirza Luqman Effendy

Mata anak tanggung itu tak lepas menyasar dari gerak-gerik seorang Ibu muda yang asyik meracik minuman di dapur. Mulai dari penyendokan bubuk berwarna coklat kehitaman, gula, penuangan air panas ke dalam gelas, sampai mengantarkan minuman yang sudah jadi ke hadapan seorang lelaki yang menjadi kepala rumah tangga, mata anak itu selalu membuntuti apa yang dilakukan perempuan tersebut. Bocah itu, yang bernama Mirza Luqman Effendy, tak pernah bosan menyaksikan rutinitas pagi Ibunya di dapur.

Pada umumnya masyarakat di Indonesia yang lahir pada kurun 1970–1980-an mengenal kopi dari orangtua atau berangkat dari rumah. Tak terkecuali dengan Mirza. Mirza begitu terkesima dengan ritual pagi hari Ibunya yang selalu membuatkan minuman kopi untuk Ayahnya. Dia begitu asyik memerhatikan Ayahnya menikmati kopi. Kadang dia selalu bertanya kepada Ayahnya: Apa sih enaknya Kopi? Entah karena untuk menghilangkan penasaran anaknya atau tak ingin diganggu lebih jauh ritual minum kopinya, Sang Ayah kerap memberikan satu atau dua sendok teh kopi tubruk yang diminum kepada Mirza yang sedang penasaran.

Ketika beranjak remaja, Mirza baru mulai minum kopi 1 gelas penuh, meski kadang Ibunya mewanti-wanti Mirza untuk minum kopi sekali dalam seminggu. Petualangan kopi Mirza mendapatkan momentumnya ketika dia berkuliah di Bandung. Sebagai anak kos pada umumnya di Indonesia, meminum kopi merupakan hal jamak. Terlebih, pada masa ngekos-nya itulah Mirza berjumpa dengan sebuah buku milik temannya yang kelak berpengaruh pada dirinya dalam melihat kopi, yang berjudul The Joy of Coffee. “Saya berpikir untuk membacanya, setelah itu saya melihat bahwa kopi bukan sekadar cairan hitam, tetapi penuh lika-liku: [mulai] dari hasil panennya sampai cara penyeduhannya. Seperti judulnya, The Joy of Coffee, cairan hitam itu sangat bisa dinikmati dan memiliki rasa yang khas dari pabrikan atau asal kopi tersebut,” ungkap Mirza.

Pada masa perjumpaan Mirza dengan gagasan specialty coffee yang didapatkan dari buku tersebut tidak serta merta memudahkan dia mendapatkan kopi yang disebut spesial. Mirza hanya bisa mencicipi kopi yang dapat dia temukan di berbagai supermarket. Petualangannya dalam mencicipi kopi dari berbagai merk yang dijual di supermarket itu berujung pada satu kesimpulan baginya: setiap merk memiliki rasa yang berbeda satu sama lain. Meski begitu, dia tetap bisa menemukan the joy of coffee dari berbagai kopi yang ditemukan di supermarket, terutama kopi Kapal Api. “Pada kala itu, saya memilih kopi Kapal Api bubuk yang menjadi jagoan saya setiap pagi,” katanya.

Petualangan kopi lelaki kelahiran 27 Mei 1980 itu tidak hanya berhenti pada supermarket. Ketika dia menjadi seorang bartender pada masa KKN (Kuliah Kerja Nyata–red) dan kerja pertama setelah lulus kuliah, Sang Ibu agak berkeberatan jika anaknya bekerja di bidang yang dekat dengan alkohol. Boleh jadi keluhan Sang Ibu merupakan berkah tersendiri bagi Mirza. Jika tidak, Mirza akan melewatkan lowongan barista di Starbucks yang diiklankan di sebuah surat kabar harian nasional. Menariknya, ketika dia memutuskan untuk melamar jadi seorang barista di kedai kopi waralaba terbesar di dunia itu, Mirza berpikir bahwa barista itu seperti waiter di kedai kopi. Pada 2003 akhirnya Mirza secara formal memasuki dunia kopi melalui gerbang Starbucks.

Di Starbucks, bekal pengetahuan yang dia dapatkan dari membaca buku The Joy of Coffee sangat membantunya. Yang sebelumnya masih abstrak buat Mirza, setelah bergabung di Starbucks bekal pengetahuan dasarnya menjadi riil. Di Starbucks Mirza mendapatkan kesempatan mencicipi berbagai kopi dari berbagai kawasan. Tidak sampai situ, Mirza mulai mengenal dengan baik metode penyeduhan kopi selain tubruk. Hal itu membuat dia semakin penasaran. Mulailah Mirza menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membeli alat kopi agar kemampuan atau pengalaman kopinya semakin terasah dan akrab. “[Pada]saat itu, saya mulai menginvestasikan hasil kerja saya dengan membeli beberapa alat kopi yang di jual di Starbucks, dimulai dari french press, lalu moka pot, blade grinder, dan akhirnya punya kesempatan memiliki mesin espresso kecil merk Delonghi”, cerita Mirza.

Dengan berbekal alat yang dimiliki, dia semakin rajin berburu biji kopi yang pada masanya cukup sulit dijumpai secara bebas. Pada saat itu, para produsen kopi yang ada standardnya adalah menjual produknya dalam bentuk bubuk. “Saya mulai membeli cafe flores, Excelso, Illy, yang kebetulan hanya itu yang saya dapatkan”, kenang Mirza. Petualangan Mirza tidak berhenti sekadar membeli biji kopi dan menyeduhnya. Dia mulai berselancar di dunia maya untuk mendapatkan banyak informasi mengenai kopi. Tak jarang apa yang dia dapatkan dari pengalaman dan Internet dia diskusikan dengan Ayahnya. Selama berdiskusi, Mirza dengan Ayahnya menjajal kopi yang ada dengan berbagai alat koleksi Mirza. Hal itu membuat diri Mirza semakin jatuh hati pada kopi.

Merasa tak cukup dengan apa yang dia dapatkan, pada 2004, Mirza menyambangi Caswell’s Coffee. Di sana, Mirza bertemu dengan Eris dan Tuti Mochtar. Perkenalannya dengan dua orang itu membawa Mirza masuk lebih dalam ke gerbang dunia kopi. Dia mulai bersentuhan dengan proses penyangraian biji kopi dan cupping atau uji cita rasa kopi. Semakin menjadi-jadilah racun kopi bersemayam di dalam diri Mirza begitu dia mengenal roasting dan cupping.

Tampaknya Sang Kopi tidak cukup meracuni Mirza hanya dengan memperkenalkan alat atau metode penyeduhan kopi selain tubruk, roasting, dan cupping. Pada tahun yang sama, 2004, Mirza mendapatkan kesempatan dari Starbucks untuk mengunjungi beberapa kebun kopi di Indonesia dan Thailand, seperti di Malangsari, Kalisat Jampit, dan Chiang Mai (Thailand). Dalam perjalanannya menjelajai kebun kopi itulah Mirza berjumpa dengan para petani, cupper, dan pihak-pihak pemerhati kopi lainnya yang kian mendongkrak kehausan seorang Mirza terhadap seluk-beluk dunia kopi.

Beruntunglah Mirza rajin mendokumentasikan apa yang dia alami. Berbekal catatan kecil dan kamera saku, Mirza rajin merekam segala hal yang dia jumpai yang sekaligus merupakan jawaban-jawaban atas pertanyaannya mengenai kebun kopi, hasil panen, dan uji cita rasa kopi.

Pada 2005, Mirza mendapatkan kesempatan dari Starbucks untuk menjadi Duta Starbucks Indonesia yang mengantarkannya ke Seattle untuk menjeluki dunia kopi global. Mirza di Seattle mempresentasikan pengalamannya dalam kebun kopi. Selama menjadi duta tersebut, dia bertemu dengan banyak cupper Starbucks dan mendapatkan latihan tentang kopi. Di Seattle, Mirza juga menyaksikan betapa meriahnya dunia kopi di Seattle sehingga kota tersebut dijuluki sebagai coffee capital city. Tak mau kehilangan kesempatan emas, Mirza selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung dan mencicipi kopi di berbagai kedai kopi di sana.

Hal paling berkesan buat Mirza ketika dia menikmati Latte Art di Espresso Vivace Seattle, yang dimiliki oleh seorang Guru dalam dunia kebaristaan, David C. Schomer. Di kedai tersebutlah semangat Mirza untuk menjadi seorang barista yang bukan sekadar penyaji kopi kepada tamu semakin membuncah. Mirza ingin menjadikan pekerjaan barista sebagai seni. Melalui kopi, sang barista bekarya sebagaimana seniman pada umumnya. “Saya ingin menjadi seorang barista yang tidak hanya sebagai peracik kopi, tetapi lebih dari itu: menjadikan profesi barista seperti seniman yang berani menampilkan karya kepada pelanggannya. Buat saya barista harus bisa berkomunikasi dengan produk dan pelanggannya agar arti dari sebuah seni di dunia barista bisa tercipta”, cerita Mirza. Untuk menghidupkan mimpinya tersebut, Mirza menyulap dapurnya menjadi Dapeor Penjelajah Kopi. “Buat saya yang belum memiliki modal untuk membuka kedai, saya memulai dengan mencoba belajar setiap saat untuk bisa konsisten menyeduh dan menikmati kopi yang baik. Maka dari itu, lahirlah Dapoer Penjelajah Kopi, tempat saya menimba ilmu yang berasaskan pengalaman pribadi dengan mencoba berbagai metode seduh dan menilai hasilnya sesuai apa yang saya bisa mengerti,” tutup Mirza. []

6 thoughts on “Mirza Luqman Effendy: Sang Penjelajah Kopi (1)

  1. Pingback: Wawancara dengan Mirza Luqman « Philocoffee Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s