Ngopi-Ngopi: Buah Ketelatenan Hobi

Musik dan kopi merupakan dua hal yang digemari oleh Rina Arlini. Meski sudah mengajar piano, dan pernah menjadi barista selama dua bulan di gerai kopi waralaba Internasional, keinginan seorang Rina untuk memiliki kedai kopi sendiri tak pernah surut. Akhirnya, tiga bulan lalu, kesempatan itu datang. Dia mendirikan mini bar kopi, Ngopi-Ngopi. Bar kopi tersebut dipersiapkan kurang lebih selama 1 tahun, mulai dari persiapan cara pengolahan membuat kopi beserta turunannya sampai pencarian pasokan alat dan bahan baku.

Ngopi-Ngopi merupakan bar kopi mungil yang terselip di bagian depan jalan lalu lalang utama para pengunjung Hero di dalam Plaza Bintaro, Tangerang. Ukuran bar kopi tersebut kurang lebih 3 x 1.5 m. Peralatan utama dalam membuat kopi di kedai itu ada Presso dan Bialetti Tazzona serta grinder merk Magister; selain itu, dilengkapi dengan blender dan pemanas air mungil serta kulkas. Di bagian depan, terdapat hiasan biji kopi dan moka pot yang bercokol elok di balik kaca; bagian depan sebelah kiri terdapat papan nama Ngopi-Ngopi. Di meja bar ditempatkan menu, booklet, dan grinder manual serta biji kopi. Working Station selain dipadati dengan espresso maker, grinder elektrik, blender, juga berjejer sirup perisa Baristella dan Da Vinci.

Rina Arlini sengaja memusatkan perhatian pada konsep take-away. Ngopi-Ngopi mengincar pelanggan yang berlalu-lalang masuk ke dalam Plaza Bintaro secara umum dan secara khusus pengunjung Hero. Posisi bar tersebut juga sangat membantu bagi Rina dalam mengejawantahkan konsepnya lantaran lalu-lintas pengunjung Hero, di mana Ngopi-Ngopi bercokol di depan swalayan tersebut, cukup tinggi. Selain itu, dia juga menyediakan 4 kursi untuk menjaga tamu yang hendak minum kopi sambil menunggu rekannya berbelanja di Hero. “Kebetulan posisi (bar kopi Ngopi-Ngopi) traffic-nya tinggi. Jadi, nanti kalo ada suami yang nganterin istrinya belanja, bisa nunggu sambil ngopi,” tuturnya.

Menu yang disodorkan terbilang bersahaja: kopi hitam (espresso dan americano), kopi susu (Ngopi-Ngopi menyebutnya kopi putih), dan kopi dicampur perisa yang bisa dipilih oleh setiap pelanggan, seperti karamel dan jamaican rum. Ketika kami berkunjung, kami dibuatkan jamaican rum dan espresso. Dari segi harga, cukup terjangkau. Untuk kopi saja, harga terendah dibandrol Rp 6.000, dan untuk ditambah sirup perisa, pelanggan menambah Rp 2.000.

Hal menarik dari perilaku konsumen Ngopi-Ngopi itu terkait dengan pajangan grinder manual di meja bar. Banyak orang, terutama anak-anak, yang tertarik untuk menjajal menggiling biji kopi selama menunggu pesanan. Itu juga mengapa, di samping grinder manual disediakan biji kopi. Ketika kami berkunjung, ada seorang anak sedang asyik menggiling biji kopi, sementara sang Ibu memesan kopi. Fasilitas semacam itu tampaknya cukup signifikan untuk mengajak konsumen mengenal lebih jauh proses pembuatan kopi, paling tidak memperkenalkan kenikmatan dan keasyikan menggiling biji kopi.

Small is Beautiful

Apa yang dilakukan Rina Arlini melalui Ngopi-Ngopi patut mendapatkan apresiasi. Meski mungil, secara konseptual dan praktik, Ngopi-Ngopi bisa dicontoh bagi para pecinta kopi yang hendak memiliki kedai kopi sendiri, tapi terbentur dengan biaya besar. Meski peralatan espresso maker seperti Bialetti Tazzona bukanlah khittah-nya diajak bekerja komersial, paling tidak Ngopi-Ngopi sudah menunjukkan bahwa kita bisa memulai suatu usaha dari apa yang kita punya dan mampu, tanpa harus menunggu sampai semuanya menjadi ideal, yang boleh jadi masa penantian tersebut tak kunjung datang. Itu secara praktik. Dari segi teoretis, Ngopi-Ngopi sudah menempuh jalur: order –> grinding –> brewing. Di tengah maraknya kedai kopi skala booth yang menonjolkan kopi instan, kehadiran mini bar kopi seperti Ngopi-Ngopi cukup menggembirakan. Semakin banyak kedai kopi kecil yang menggiling biji kopi setelah ada pesanan, maka “dakwah keimanan biji kopi” semakin mampu menjangkau banyak orang. Selain itu, dengan kedai kopi kecil, harga minuman bisa diatur sedemikian rupa agar terjangkau banyak lapisan masyarakat, yang ujung-ujungnya itu bisa mengonversi “keimanan kopi saset” para pecinta kopi ke “keimanan biji kopi”.

5 thoughts on “Ngopi-Ngopi: Buah Ketelatenan Hobi

  1. tulisannya sangat deskriptif dan informatif sehingga menggoda kami untuk membuat kedai kopi sederhana ala order-grinding-brewing . Selamat buat Mbak Rina dan terus berbagi info philocoffeeproject !

    Like

  2. Congrats bu, sangat inspiring artikelnya semoga konsep bussines kopinya bisa jadi penyemangat yang lain untuk berwirausaha coffe, maju terus bu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s