Datuk Doddy Samsura: Bintang Barista 2011

Doddy Samsura merupakan bintang yang muncul pada perhelatan Kompetisi Barista Indonesia 2011. Lelaki kelahiran Rantau Panjang, Aceh Timur, pada 18 Agustus 1983, ini meruntuhkan anggapan bahwa Jakarta adalah segalanya. Datuk Doddy merupakan barista yang bergiat di Jogjakarta. Ayah dari Sophia Raihana Samsura ini telah membersitkan semangat para barista di luar Jakarta bahwa kemampuan itu melampaui batasan geografis. Ini, salah satunya, soal kesempatan. Oleh karena itu, IBC 2011 merupakan titik cerah harapan yang sudah menjaring berbagai barista berpotensial di luar Jakarta. Itu merupakan langkah yang sangat menggembirakan bagi perkembangan barista di Indonesia pada masa mendatang.

Pada kesempatan ini, Sang Juara berkenan membagi waktunya kepada Philocoffee Project untuk ngobrol santai.

Hak Cipta Foto: Toni Wahid

Kenapa memutuskan untuk menjadi barista?

Pada awalnya, 2008, saya hanya seorang mahasiswa yang ingin mencoba tantangan baru dengan menyambi kegiatan perkuliahan sambil bekerja part time. Awalnya tidak ada ketertarikan khusus terhadap coffee shop ataupun kopi. Hanya saja, pada saat itu, bertepatan dengan adanya open recruitment di sebuah coffee shop, yaitu Kedai Kopi Espresso Bar— tempat saya bekerja hingga saat ini, yang juga kebetulan dekat dengan kost saya. Akhirnya, saya melamar dan ternyata diterima meski saya belum punya pengalaman seputar dunia kopi dan coffee shop. Pada saat itulah saya baru mulai mengenal dan belajar lebih jauh tentang dunia kopi. Perjalanan dan ketertarikan saya di dunia kopi pun baru dimulai saat itu.

Ketika melamar itu, apakah Anda sudah mengetahui deskripsi seorang Barista?

Pada saat itu, saya pikir saya berada di posisi yang sama seperti orang awam, hanya mengartikan barista sebatas orang yang meracik minuman dari kopi. Tidak lebih dari itu. Pengetahuan saya tentang kopi dan dunianya memang masih sedikit sekali. Setelah menyadari bahwa dunia kopi itu tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, hal tersebut membuat saya benar-benar tertarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi.

Lalu, apa makna seorang barista bagi Anda sekarang?

Mungkin kesannya berlebihan, tapi bagi saya sekarang barista adalah penyelamat, penyelamat bagi kualitas kopi dan customer. Karena mereka yang berada di posisi akhir untuk menyelamatkan kualitas yang ada di kopi, sebelum kopi tersebut dihidangkan ataupun dinikmati. Selain itu, barista juga penyelamat bagi customer yang datang ke sebuah coffee shop untuk dapat menikmati kualitas dari secangkir kopi.

Sejauh ini, apa saja suka dan duka menjadi seorang barista?

Sukanya ketika customer datang dan hanya ingin menu yang dipesan olehnya dibuatkan oleh saya. Karena menurut customer tersebut, menu yang dipesannya akan lebih nikmat jika proses pembuatannya saya yang lakukan, padahal bahan baku, peralatan, dan proses pembuatan yang saya lakukan sama. Pengalaman itu membuat saya menjadi lebih menghargai customer dan pekerjaan saya.

Kalau dukanya, juga ada customer yang datang kemudian mencari minuman kopi saset. Dan ketika ditawarkan fresh coffee, karena kopi saset tentunya tidak ada di coffee shop tempat saya bekerja, customer yang bersangkutan menolak karena dia lebih suka yang sasetan. Ya, ternyata masih banyak orang yang begitu awam terhadap kopi dan coffee shop, walaupun kalau bicara selera sebenarnya memang tidak bisa diperdebatkan.

Menurut Anda, mengapa banyak orang yang belum melirik kopi segar, alih-alih malah lebih memilih kopi saset?

Edukasi tentang kopi yang saya rasa memang masih kurang. Kalah gencar dibanding dengan iklan kopi instan atau kopi saset. Akhirnya, kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kopi, ya, menjadi terbatas; apalagi tentang kualitas kopi.

Yang menarik, pertumbuhan coffee shop terbilang pesat di kota-kota. Lantas, mengapa itu tetap tidak mendongkrak minat orang banyak akan kopi segar?

Tidak semua coffee shop juga yang bisa secara konsisten mengedukasi customer-nya tentang kopi. Dan, enggak semua coffee shop juga concern terhadap kopi. Banyak juga coffee shop yang sekadar dijadikan tempat nongkrong dan kopinya malah hanya sebagai pelengkap.

Menurut Anda, hal apa yang harus dilakukan oleh coffee shop agar mampu mendorong banyak orang untuk melirik kopi segar?

Memastikan bahwa kopi yang digunakan adalah kopi yang memang berkualitas. Selain itu, juga harus memastikan baristanya mampu menyajikan minuman yang berkualitas dan memberi pelayanan yang ber-attitude.

Bagaimana perkembangan barista di Indonesia sekarang?

Jika semua barista bisa bekerja sama dengan (minimal) petani kopi dan roaster, mungkin dunia perkopian di Indonesia bisa jauh lebih maju. Sejauh yang saya lihat, barista di Indonesia saat ini memang sudah cukup memiliki skill kebaristaan yang baik. Internet mempermudah para barista untuk mempelajari skill tersebut, sehingga perkembangan skill barista tetap bisa ter-update. Tapi, kebanyakan barista kita terkadang tidak “mengenal” kopinya. Untuk “mengenal” atau mendapatkan pengetahuan tentang kopi itu membutuhkan pengalaman, percobaan, sharing, dan lain ssebagainya. Sebagian besar barista kita (termasuk saya), saya yakin, masih belum punya banyak kesempatan untuk itu.

Sebagai seorang juara dalam Kompetisi Barista Indonesia 2011, apa saja yang Anda persiapkan selama mengikuti lomba tersebut sehingga membuat Anda menjadi orang nomor satu dalam perlombaan bergengsi tersebut?

Sebenernya masih gak pede kalau dibilang juara. Tampaknya, saya sedang beruntung aja. Soalnya, teman-teman finalis pada perlombaan itu memiliki skill dan teknik luar biasa. Kemaren, untuk menghadapi grand final yang di Jakarta memang persiapannya rada panjang dan lebih serius. Belajar dari kesalahan dari pertandingan sebelumnya di tingkat regional yang hasilnya memang pas-pasan.

Kalau apa yang dlakukan pada persiapan saya mulai dari memahami rules and  regulations secara detail. Fungsinya untuk poin mana yang memang harus saya raih karena poinnya tinggi, misalnya. Selain itu, saya mempelajari video juara-juara WBC (World Barista Championship) 2007–2010. Untuk strategi, saya mencontoh mereka.

Terakhir, persiapan yang paling penting adalah saya melakukan pertandingan simulasi berkali-kali yang kebetulan difasilitasi oleh kafe tempat saya bekerja. Ini yang paling ngebantu saya untuk mempersiapkan mental dan terus memperbaiki strategi maupun segala kesiapan untuk pertandingan. Tapi, jika dibandingin dengan event yang lebih besar, usaha yang saya lakukan masih belum apa-apa.

Dari mana ide signature drink yang Anda lombakan pada IBC itu datang?

Ide awalnya saya cuma pengin mencampur espresso dengan coklat, karena padanan yang paling cocok selain susu, ya, coklat. Kemudian, mencari-cari inspirasi di Mbah Google tentang coklat, nemunya malah resep ngebuat kue coklat. Itu yang saya coba adopsi. Selanjutnya, untuk penyempurnaan saya dibantu berkat sharing dengan beberapa teman. Terakhir, barulah ditambahkan jahe merah yang dbakar, kacang mete sebagai pelengkap, dan heavy cream untuk mempermudah pencairan coklat.

Hmmm. Sudah terbayang enaknya pasti kopi racikan Anda. Omong-omong, apa saran Anda kepada barista agar dapat mengembangkan kemampuannya?

Ke depannya, saya harap para barista mau untuk lebih menghargai profesinya sebagai barista. Jika sudah mau untuk menghargai dirinya dengan profesinya, mudah-mudahan muncul sikap untuk mau mengembangkan dan memajukan profesi tersebut. Akhirnya, mempelajari tentang kopi, from bean to cup, menjadi keharusan; memperlakukan customer dengan baik adalah kewajiban; ingin mengembangkan kemampuan berarti harus mau belajar, mau membuka pikiran. Itu harapan saya yang tidak hanya ditujukan kepada para barista lain, tapi termasuk saya juga di dalamnya.

Apa mimpi Anda dalam dunia kopi yang sekarang sedang Ada wujudkan?

Mimpinya, ya, bisa lebih sukses di event kompetisi berikutnya, agar bisa lebih memperkenalkan kopi Indonesia baik ke masyarakat Indonesia sendiri, dan, syukur alhamdulillah, jika bisa ke dunia Internasional. Ha-ha-ha.

Omong-omong, kopi apa yang paling Anda sukai, mulai dari tipe kopi sampai metode penyeduhan?

Whuaaa…. Ini paling susah dijawab sebenarnya. Semuanya punya karakter masing-masing, kan. Selain itu, setiap alat masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dan, masih banyak jenis kopi yang belum pernah saya cicip. Masih banyak kopi dengan brand yang memang sudah diakui kualitasnya yang belum pernah saya coba. Kalau metode brewing, ada juga yang belum pernah saya coba. Misalnya, Ibrik. Philocoffee Project belum mau ngasi diskon spesial ke saya soalnya untuk beli itu alat. Ha-ha-ha.

Kalau lebih sering, saya memang sampai saat ini masih lebih sering minum coffee blend dan prosesnya pake mesin espresso.

Kredit:

Teks/Pewancara: Philocoffee Project

Foto: Toni Wahid

10 thoughts on “Datuk Doddy Samsura: Bintang Barista 2011

  1. Sewaktu IBC Jogja, para juri sepertinya agak kecewa, dan memberi banyak catatan kepada 6 besar pemenang. Tapi mereka mau belajar dan belajar, lihatlah sekarang, bahkan nomor 5 di regional bisa jadi nomor 1 nasional. Salut, selamat!

    Like

  2. Apakah menjadi barista di tempat lain juga diharuskan untuk membersihkan semua peralatan, termasuk menyapu, mengepel lantai, mengepel karpet lantai di bar?
    Satu hal lagi, apakah kultur di industri F&B memang identik dengan senioritas dan omelan?
    Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s