33 Cups of Coffee: Sebuah Perekam Esktase Kopi

Aktivitas meminum kopi tidak bisa dilepaskan dengan memori dan eksperensial. Meski pada saat ini kopi Anda sudah habis 1 jam yang lalu, rasa yang Anda dapatkan dari kopi yang Anda minum tersebut tetap dapat Anda hadirkan di benak. Jika Anda menggemari satu jenis kopi, bisa dipastikan Anda akan selalu membandingi kopi favorit Anda tersebut jika Anda mendapatkannya dari sumber berbeda. Upaya membandingkan tersebut tentu saja berdasarkan memori. Nah, masalahnya memori itu bisa saja tidak bisa Anda akses: lupa. Di sinilah letak signifikansi 33 Cups of Coffee terbitan dari 33 Books. Jurnal ini akan membantu Anda untuk merekam segala pengalaman Anda ketika meminum kopi di berbagai tempat.

Menariknya, 33 Cups of Coffee tidak saja sekadar perekam sambil lalu mengenai perkelanaan Anda di setiap cangkir kopi, melainkan juga alat bantu personal untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam menilai cita rasa kopi lantaran dalam jurnal ini tidak hanya disodorkan Roda Rasa (Flavour Wheel). Dalam jurnal ini, Anda tidak hanya mencatat cita rasa yang Anda dapatkan dari sebuah kopi, tapi juga siapa penyangrainya, kapan ia disangrai, kapan Anda meminumnya, kopinya disajikan dengan metode apa, siapa produsennya, apa nama kopinya, dan berapa harga kopi yang Anda minum tersebut, serta Anda juga dapat menulis kesan ketika meminum kopi. Jika Anda penggemar kopi Gayo misalnya, dengan jurnal ini Anda bisa menelaah kembali soal cita rasa tersebut jika diseduh dengan berbagai cara dan perbedaan usia kopi tersangrai. Apakah kopi Gayo rasanya sama jika diseduh dengan cara tubruk dan pour over? Apakah kopi Gayo yang disajikan dengan cara espresso akan sama rasanya jika usia kopi tersangrai yang digunakan berbeda-beda?

Jika Anda gemar minum kopi di berbagai tempat sekaligus menandai setiap kopi tersebut bagaimana cita rasanya, jurnal ini akan sangat membantu. Sebagai sebuah koleksi benda yang terkait dengan kopi, jurnal ini juga layak mendapatkan perhatian lantaran menggunakan kertas daur ulang dan untuk tinta berwarna coklat yang digunakan di jurnal ini menggunakan campuran kopi dari Rwanda.

Betapapun, sayangnya jurnal ini meluputkan satu hal penting, yaitu profil sangraian kopi. Di jurnal ini tidak ditemukan akan hal tersebut. Padahal, kopi Gayo, misalnya, dengan profil sangraian berwarna cerah, sedang, dan gelap memiliki karakter rasa kopi berbeda. Jika profil sangraian kopi dimasukkan ke dalam kolum di jurnal ini, maka akan sangat membantu sekali bagi kita untuk mengenal lebih jauh kopi yang kita minum. Semoga, pada edisi berikutnya Dave Shalden memasukkan kolom profil sangraian di jurnal ini. Terlepas dari kekurangan tersebut, jurnal ini tetap sangat membantu kita untuk meningkatkan kepekaan kita akan khazanah cita rasa kopi.

7 thoughts on “33 Cups of Coffee: Sebuah Perekam Esktase Kopi

  1. Semacam LKS (Lembar Kerja Siswa) waktu jaman sekolah dulu.
    Dan sepertinya ini penting bagi para penikmat kopi untuk mengasah lidah agar lebih mengenal rasa dan karakter kopi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s