Kopi dan Pesantren

Ancang-ancang

Ramadhan merupakan masa yang tak habis dimaknai. Berbagai peristiwa terekam. Yang lalu bisa hadir pada masa kini, kadang muncul dengan makna baru. Salah satu rekaman saya mengenai Ramadhan biasanya tidak jauh dari pesantren dan keadaan kos saya sepanjang masa kuliah S-1. Salah satu yang mengisi dan menarik dikenang dalam Ramadhan saya adalah kopi.

Di Pesantren tempat saya belajar keagamaan, yakni Pondok Pesantren al-Syahron, Kadumerak, Pandeglang, ketika memasuki masa Ramadhan biasa mengadakan pengajian pasaran. “Ngaji pasaran” merupakan nomenklatur khas kalangan sarungan. Maknanya kira-kira adalah berikut: Mengaji 1 kitab yang diselesaikan selama Ramadhan, dan sifatnya terbuka, dalam hal ini santri dari mana saja boleh ikut serta. Setiap pesantren mengaji 1 kitab berbeda satu sama lain yang dipilih mana suka oleh sang Kiai. Tak sedikit pengajian pasaran itu membedah 1 kitab yang berkaitan dengan keahlian sang Kiai. Karena Kiai saya waktu itu mahir dalam ilmu alat dan tafsir, maka pengajian pasaran tak jauh dari kitab yang dikuasai oleh Kiai saya, K.H. Ahmad Busyro Aziz. Praktis, kitab semacam itulah yang kami kaji.

Nah, selama pengajian pasaran yang sampai larut malam itu, maka kami, para santri, biasanya membawa segelas kopi ke dalam majelis. Tentu, guru kami tak kalah🙂 Terlepas kritikan teman-teman saya soal pengultusan kiai, biasanya memang ada suatu keadaban tak tertulis di pesantren kami bahwa tidak sopan membawa makanan dan minuman ketika mengaji. Sekali lagi, itu peraturan tak tertulis yang entah datangnya dari mana. Karena suatu yang diteruskan, sikap seperti itu cukup sulit kami lampaui pada titik tertentu. Belum lagi konsep berkah cukup bercokol kuat di kami sehingga kadang kami merasa cemas jika masa studi kami tidak berkah jika bertindak yang dianggap tidak sopan. Tapi, pada Ramadhan, peraturan semacam itu entah bagaimana bisa dijebol oleh kami. Kadang, jika asupan kopi tak cukup, kami keluar dari majelis, membuat kopi. Setelah selesai menyeduh kopi, kami melenggang kangkung masuk ke majelis dan duduk sambil meneruskan nyoret kitab.

Yang menarik, beberapa dari kami, biasanya santri baru, memercayai bahwa kopi dan puntung rokok bekas Kiai itu bisa mendatangkan berkah. Berkah dimaksud adalah dapat pandai mengaji. Dan, entah sikap percaya seperti itu datang dari mana🙂 Jadilah, beberapa santri selepas mengaji biasanya mengincar kopi bekas Kiai kami. Barangkali itu bisa mengerenyitkan dahi kita. Tapi, setiap orang punya cara sendiri untuk memotivasi dirinya dalam mencapai tujuannya. Salah satu cara itu adalah menyeruput kopi bekas kiai🙂 Sampai sini, jelas itu tidak menggelikan. Jika pun iya, itu karena kita memang tidak bisa memahami cara orang lain saja. Sikap semacam itu bisalah disebut sebagai sugesti atau motivasi belaka mengingat pada kenyataannya tidak semua santri yang bebal menjadi pandai setelah menyeruput kopi dan menghisap rokok bekas kiai🙂

Selepas mengaji, ritual minum kopi tak selesai. Sesi diskusi dan debat sebenarnya baru saja dibuka🙂

Ketika memasuki Ramadhan 2011 ini, ingatan saya mengenai kopi di pesantren benar-benar menggoda saya untuk kembali ke masa lalu🙂 Saya membayangkan bagaimana pada masa itu jika kami membuat kopi dengan cara menggiling biji kopi sendiri, pasti akan lebih seru dan menyenangkan🙂 Apalagi jika sampai menyangrai sendiri… amboi….

Kopi dan Pesantren

Ada satu kitab yang dikenal di dunia pesantren berjudul Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qahwah wa al-Dhukhan yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes. Kitab tersebut populer dikenal sebagai Kitab Kopi dan Rokok. Sebagaimana tersirat dari judulnya, Kitab ini membahas soal status hukum kopi dan rokok. Pada masa penulisan kitab ini, sudah beredar pendapat-pendapat fikih dari beberapa ulama yang menjatuhkan hukuman haram pada kopi dan rokok. Nah, Syaikh Ihsan Jampes menulis kitab tersebut untuk menyanggah hal tersebut. Jika para pembaca pernah membaca kitab tersebut, kita bisa menemukan bagaimana dinamika perdebatan pendapat hukum keagamaan tumbuh subur pada masa itu, tidak seperti sekarang.

Jika seorang guru keagamaan ternama saja sampai menulis kitab khusus yang membahas kopi, maka itu bisa menunjukkan bahwa kopi sangatlah akrab di kalangan pesantren. Terus terang, ekstase saya akan kopi malah tumbuh sejak saya memasuki pesantren. Guru saya juga seorang peminum kopi kampiun. Saya salah satu dari sedikit santri yang kerap membuatkan kopi untuk guru saya. Takaran favorit guru saya adalah: dua sendok teh bubuk kopi dengan satu sendok teh gula.

Jika kita menengok pesantren tradisional, dengan mudah sekali kita bisa menemukan segelas kopi di sela-sela kerumunan santri yang berdiskusi, di kamar santri yang sedang membaca kitab, kiai yang sedang mengajar santri ditemani kopi kegemarannya, bahkan sampai di dapur umum biasanya santri yang memasak menyempatkan waktu menjerang air untuk keperluan minum kopinya agar semakin semangat memasak. Ketika saya dan salah satu alumnus dipinta kiai membangun bangunan pesantren beberapa kamar, pihak keluarga kiai selalu menyiapkan kopi bagi kami: pagi, siang, dan sore.

Ketika saya bermain ke pondok pesantren lain, atau mengaji di pesantren lain, biasanya selalu disuguhkan minuman utama dengan kopi seakan-akan itulah tradisi dalam menjamu tamu yang dikenal kalangan pesantren. Dan, pada masa itu, kami menjerang air dengan kayu bakar. Nah, jadi agak smoky hasil kopinya🙂

Di pesantren biasanya banyak santri datang dari luar daerah pesantren bersangkutan, tak terkecuali dengan pondok saya. Nah, para santri yang berasal dari luar Banten biasanya ketika pulang ke rumahnya begitu datang lagi ke pesantren membawa kopi khas daerahnya. Santri yang baru datang dari pulang kampung selalu kami nantikan. Santri yang baik, menurut kepercayaan kami pada masa itu adalah, ketika dia datang ke pesantren setelah pulang kampung berteriak: “Qulhum… Qulhum… Qulhum…”

Teriakan Qulhum menandakan ada santri yang baru datang membawa makan, dan tentu saja kopi jika di daerah sang santri memiliki kopi khasnya. Begitu mendengar, kami berhambur keluar. Jika makanan yang dibawa banyak, segelintir santri inisiatif ke kebun memotong daun pisang untuk alas makan beramai, sebagian memetik lalap-lalapan dan cabai yang kami tanam. Begitu daun pisang terhampar yang bertahtakan nasi beserta sayur dan lauk, mulailah kami mengambil posisi mendayung🙂 Kadang, jika kami meleng sedikit, ada saja ayam yang berani melintas sembari mematuk nasi di bentangan daun pisang tersebut. Tapi, itu tetap tidak menganggu pesta kami. Setelah makan, barulah membuka “hadiah” lain, yaitu kopi jika sang santri membawa kopi. Nah, pesta berlanjut.

Kopi inilah yang selalu kami nanti. Pada masa saya mondok, belum dikenal deregulasi pesawat serta internet retailer. Jadi, kesempatan untuk mencoba kopi dari berbagai daerah didapatkan dari kemurahan hati teman kami yang pulang kampung.

Setiap daerah di mana saja yang mengenal kopi, dan pada titik tertentu di pranata sosial, memiliki ciri sosial ketika merayakan kopi. Di Indonesia kopi erat kaitannya dengan ngobrol. Saya setuju sekali dengan salah satu guru spiritual kopi saya yang mengatakan dalam artikelnya yang berjudul Celebrating Hundred Years of Kopi Tubruk bahwa peraturan (dimaksud tata cara) minum kopi di Indonesia adalah no rule! Kita bisa mengaji sambil minum kopi, bisa main gaple[k], bisa ngobrol ngalor-ngidul, berbaring tak jelas, nyethe: arbitrer. Tak terkecuali di pesantren. Kebiasaan kami ketika minum kopi antara tiga hal: 1) baca kitab (jika sendiri); 2) diskusi dan debat (jika lebih dari 1 orang); dan 3) melepas penat🙂

Betapapun, saya tidak ragu mengatakan bahwa bagaimana kopi itu dirayakan di dalam pesantren merupakan khazanah kopi khas Indonesia. Kopi yang dapat membentuk miniatur sosial tidak hanya ditemukan di dalam kedai kopi rural dan urban, melainkan juga di dalam tembok pesantren. Saya tidak ragu bahwa nyaris masyarakat di Indonesia sebenarnya akrab dengan kopi, terlepas kopi itu jelek atau bukan specialty coffee. Di pranata sosial di masyarakat kita pun akrab dengan kopi. Di pesantren pun kami nyaris tiada hari tanpa kopi; jika kami pada hari tertentu tidak minum kopi, itu bisa dipastikan kami sedang tidak punya uang🙂

One thought on “Kopi dan Pesantren

  1. apa hukumnya orang islam wudlu terus murtadz,terus kembali lagi islam. wudlunya batal atau tidak????? tolong jelaskan alasannya dan apa dasarnya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s