Coffee Cupping di Bandung

Selang 1 hari Ramadhan, Vinsensius Dian Wirawan, dipanggil Dian saja, pemilik Kopi-Q, Pasir Kaliki, Bandung, mengadakan Coffee Cupping di kedai kopi miliknya. Kegiatan uji citarasa kopi di Bandung masih terbilang langka. Ikhtiar Kopi-Q mengadakan acara ini layak diberikan apresiasi. Meski kegiatan ini tidak seketat yang dibayangkan pelaksanaannya, sebagai awalan tentu merupakan langkah visioner yang telah diambil oleh pihak kedai kopi dalam mensosialisasikan apresiasi penilaian kopi. Mengingat sebagian besar partisipan kegiatan ini datang dari pelanggan Kopi-Q, ia juga bisa dikatakan merupakan prauji kegiatan. Ke depan, Dian akan menggodok kegaiatan ini lebih matang sehingga bisa dilaksanakan secara berkala.

Secara umum, coffee cupping atau uji citarasa kopi bertujuan untuk mengetahui dan menilai profil kopi dari segi keharuman (fragrance), aroma (aroma), tekstur (body), jejak rasa (aftertaste), kesepatan (acidity), dan perisa (flavour). Dari segi teknis, biasanya digalakkan dari kalangan pelaku industri, uji citarasa kopi bertujuan untuk menelusuri kecacatan sebuah kopi dan meracik antar kopi demi menghasilkan profil sedemikian rupa (blend).

Begitu juga dengan apa yang hendak dihadirkan acara cupping di Bandung ini: mengenal dan menemukan kecacatan atau kekurangan sebuah kopi. Kekurangan suatu kopi bisa berasal dari proses prapanen dan pascapanen atau penyangraian. Pada kesempatan kali ini, ada tiga kopi dari daerah yang berbeda: yakni Flores, Toraja-Sapan, dan Papua. Tentu, para partisipan tidak mengetahui apa kopi yang mereka icip selama proses pengujian berlangsung. Para partisipan baru mengetahui kopi yang mereka minum menjelang akhir proses evaluasi hasil uji citarasa.

Hal paling menarik dari uji citarasa kopi adalah bagaimana menjembatani subjektivitas penguji dengan objektivitas rasa yang bisa diterima banyak orang. Berbagai rumusan cupping banyak diajukan, yang paling terkenal adalah a la SCAA (Specialty Coffee Association of America) dan CoE (Cup of Excellence). Selain itu, tolok ukur hasil pengujian bisa diterjemahkan ke dalam angka atau deskripsi atau kombinasi di antara keduanya.

Betapapun, tetap, masalah yang hendak dilampaui dalam cupping adalah bagaimana menyelaraskan subjektivitas dengan acuan general yang bisa ditabalkan sebagai objektif. Setelah para partisipan uji citarasa selesai mengetes berbagai kopi, disusul dengan bincang-berbagi mengenai pengalaman pengujian masing-masing partisipan. Secara umum, pada kegiatan ini, masing-masing orang memiliki preferensi berbeda satu sama lain mengenai kopi yang layak keberterimaannya dalam konteks citarasa. Ada yang memilih Kopi A (Flores) lantaran jejak rasanya panjang; ada yang memilih Kopi B (Papua) karena karakter manis pada kopi muncul; juga ada yang memilih Kopi C (Toraja Sapan) mengingat kompleksitas rasa yang ditangkap. Buat saya, berbagi pengalaman merasakan semacam ini sangatlah menarik. Alasannya sederhana saja, tidak ada yang absolut, dan pada saat sama itu tidak berarti semuanya menjadi serbarelatif.

Semoga di Bandung acara semacam ini semakin sering dilakukan.

One thought on “Coffee Cupping di Bandung

  1. Pingback: Adi W. Taroepratjeka: Sang Pengelana Kopi « Philocoffee Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s