Kopi dan Ramadhan

Kapan persis usia saya ketika pertama kali menengguk minuman kopi sama sekali tidak saya ketahui. Yang saya ingat adalah pakaian atasan putih dan bawahan merah. Pada masa-masa itu saya sudah minum kopi, meski tidak setiap hari dan dalam jumlah banyak: sekadar mencicip kopi milik Ayah dan Ibu. Ketika warna pakaian bawahan saya berubah menjadi biru, barulah saya rutin minum kopi. Tapi, pada masa SMP (Sekolah Menengah Pertama) itu, seingat saya tidak banyak juga, paling tidak sudah cukup lumayan dibanding ketika masa SD (Sekolah Dasar). Nyaris setiap hari saya minum kopi pada masa SMP. Kadang ketika berkunjung ke rumah nenek saya (Allah yarham), beliau selalu membuatkan saya kopi dicampur dengan susu kental manis. Jika di rumah, kopi yang saya minum adalah Kapal Api atau kadang Nescafe. Tapi, seringnya Kapal Api, mengingat itulah kopi yang diminum Ibu saya.

Perjalanan kopi saya mencapai peningkatan maqam ketika saya mulai hijrah ke Pandeglang. Saya bersekolah STM (Sekolah Teknik Menengah) PGRI 1, Ciceri, Serang, pada 1998. Tidak berselang lama menjalani STM, di Pandeglang, dan juga di banyak tempat, terjadi peristiwa yang kelak disebut Fenomena Ninja. Di Pandeglang, terdapat banyak pondok pesantren. Di desa saya berdomisili terdapat 4 pesantren besar dan ternama. Para pemuda di desa tersebut setiap malam berjaga, tidak terkecuali saya yang diajak untuk turut serta. Nah, dari sinilah saya mulai mengenal jengkol dan nasi liwet, dan tentu saja perbedaan kopi yang dicampur dengan jagung dan tidak.

Waktu itu, di Pandeglang ada kopi khas, yang sayangnya saya lupa nama merknya. Yang jelas kopi tersebut berasal dari Lampung. Jika tidak salah ingat, merknya Kopi (Cap) Jempol. Masalahnya, Kopi (Cap) Jempol ini banyak sekali. Jadi, sulit saya pastikan kopi yang mana. Kopi tersebut dibungkus dengan kertas coklat, dan dijual per kemasan mulai dari 50 gr sampai 1.000 gr. Terlepas dari itu, yang jelas sejak di sana saya mulai mengenal kopi selain Kapal Api, Torabika, dan Ayam Merak. Pada saat itu, saya gandrung sekali kopi lokal sana. Sebelumnya saya belum pernah melihat kopi tubruk dengan permukaan busa kopi yang tebal begitu dituang air panas dan diaduk. Di sana pula saya mencoba minum kopi tanpa gula.

Ketika saya memutuskan untuk masuk ke Pondok Pesantren, setelah mengenal baik tradisi kaum sarungan selama berjaga-jaga akan serangan Ninja, perjalanan minum kopi saya semakin membuncah. Harus saya akui, saya masuk ke pesantren karena alasan ikan asin peda bakar, jengkol goreng kecap, nasi liwet, dan kopi. Empat hal itu membuat saya kerasan untuk berada di pesantren. Saking kerasan, saya tinggalkan sekolah saya. Tentu saja, saya menekuni kitab kuning berbahasa Arab gundul itu di sana.

Di pesantren, hal paling sangat diingat oleh santri mana saja adalah ketika menjelang dan masuk Ramadhan: salah satu hal yang membuat para santri teringat adalah berlimpahnya makanan dan tentu saja pengajian. Kebiasaan di pesantren tradisional adalah membuka pengajian pasaran. Selama sebulan penuh, hari-hari kami penuh dengan pengajian bersama guru kami,  Alm. KH. Ahmad Busyro Aziz (Ki Uco) (Allah yarham) , dari sore sampai menjelang pagi. Nah, pada masa itulah konsumsi kopi kami meningkat. Meski minum kopi itu tidak serta merta membuat kami melek, paling tidak bagi kami pada masa itu sangat membantu sekali bagi kami untuk tetap tidak tertidur ketika sedang mengaji.

Pada tengah malam, biasanya pengajian bersama guru selesai. Kami, para santri, biasanya meneruskan dzikir, ada juga yang ngobrol sembari membahas apa yang sudah dikaji, atau langsung istirahat. Nah, santri yang memilih untuk melek sampai 1 jam sebelum sahur baik itu dengan cara bertukar pikiran apa saja, mulai dari tafsir, politik, sampai fiqh dan karisma-karisma para kiai yang ada, akan ditemani dengan kopi. Ketika bercengkrama seperti itu, kami mengonsumsi kopi lebih banyak daripada biasanya. Satu jam menjelang sahur, biasanya kami bubar, masuk ke masing-masing kobong (kamar) untuk berdzikir atau merenungi makna Ramadhan. Setelah itu, kami masak sahur. Nah, ketika memasak itu, kami tetap menyeduh kopi. Lalu, setelah selesai makan sahur, kami melanjutkan minum kopi. Ketika itu, jumlah santri di pondok pesantren kami sedikit, sekitar belasan orang saja. Biasanya 20. Sisanya kadang mengikuti pengajian pasaran di tempat lain. Jadi, setiap hari paling sedikit kami minum kopi 5 gelas.

Bagi saya, kopi dan Ramadhan memiliki makna dan cerita sendiri. Saya sangat terbantu sekali ketika menekuni sosiologi kopi ketika memasuki Ramadhan lantaran saya bisa memetakan akan hal yang sedang saya pelajari sembari mengingat-ingat masa lalu. Begitu juga dengan kesempatan pada tahun ini, 2011, di mana lusa kita akan menjumpai Ramadhan.

Betapapun, kami, Philocoffee Project, mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Berpuasa Ramadhan bagi yang menjalaninya dan kami juga minta maaf jika selama ini tindak-tanduk kami telah menyinggung atau melukai perasaan Anda.

HS

Salah satu pegiat Philocoffee Project

4 thoughts on “Kopi dan Ramadhan

  1. Anda hebat mas HS, saya sendiri baru SMA mulai minum kopi (tapi belum ngopi) dan baru wkt kuliah bebas ngopi karena kos. Saya ini kira2 setua (atau lebih) ibu anda, jadi sampai saat ini sudah hampir 40 tahun saya minum kopi, dan alhamdulillah sehat2 saja. Mari sama2 tetap menikmati kopi di bulan Ramadhan.
    Salam coffeelover.

    Like

  2. Pingback: Kopi dan Pesantren « philocoffeeproject

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s