Kopi Kelana & Metacoffee: Philocoffee Project

Berbeda dengan espresso yang sudah populer, teknis dan alat penyeduhan kopi nonespresso belumlah begitu populer di Indonesia: mulai dari metode purba (purba itu artinya awal, bukan kuno!) seperti Ibrik/Turkish Coffee, sampai kontemporer seperti pour over dan AeroPress. Melihat kenyataan semacam itu, sejak April 2011 kami, Philocoffee Project, menyusun kerja-kerja mengenai pengenalan teknis dan alat penyeduhan kopi ke khalayak, dalam hal ini warga di Bandung. Pilihan yang kami ambil untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mempromosikan penyeduhan di jalan atau street brewing. Maka tercetuslah Kopi Kelana dan Metacoffee. Kopi Kelana nama kerja yang diperuntukkan khusus di jalanan, dalam hal ini ruang publik, sementara Metacoffee nama kerja yang khusus diperuntukkan khusus dalam acara bazaar dan sponsor acara-acara kegiatan seminar dan pameran karya seni.
Dari sisi kopi, gagasan kopi spesial (specialty coffee) juga belumlah dikenal luas di masyarakat yang meminum kopi, terlepas maknanya yang masih debatable lantaran realisasi akan specialty coffee itu di Indonesia belumlah mapan seperti yang disinggung oleh Arief Said pada tulisannya “Specialty Coffee (??) – Janji Belaka”. Dengan segala keterbatasan yang ada, proyek ini menggelontorkan wacana kopi spesial ke ruang publik. Di samping itu, Kopi Kelana turut memperkenalkan penyeduhan kopi selain espresso di jalanan atau kaki lima, mengingat belakangan orang mengidentifikasikan kopi spesial dengan “kafe” mewah dan dengan teknis espresso. Kami merasa perlu menghadirkan diskursus tandingan akan hal itu.
Kopi Kelana beroperasi dengan menggunakan tiga (3) buah sepeda dan gerobak yang didesain sedemikian rupa oleh salah satu penyeduh kopi kami, yaitu Tjoe Ying Sin, dan dapat disulap sedemikian rupa menjadi mini bar. Dengan menggunakan sepeda, tentu saja Kopi Kelana bisa berkelana ke mana saja selama kami sanggup mengayuh sepeda. Kopi Kelana menghadirkan berbagai alat penyeduhan di jalanan seperti:  ibrik, moka pot, syphon, dripper pour over, AeroPress, Vietnam Drip, dan French Press. Karena kami melakukan proyek ini di jalanan, tak sedikit kami sering menemukan kendala seperti pengusiran atau mendapatkan izin penggunaan lahan.
Sejak proyek ini pertama kali digulirkan, pada 23 April 2011, di mana Kopi Kelana  menjadi sponsor acara seminar dan pemutaran film mengenai Pemikiran Tan Malaka dalam Konteks Pendidikan, di ITB, hingga 05 Juni 2011, lokasi Kopi Kelana selalu berpindah atau tidak sama. Kadang jauh dari lokasi sebelumnya, kadang tidak. Begitu juga dengan jam operasi kegiatan Kopi Kelana. Kadang dimulai pada jam 2 dini hari, kadang subuh atau pagi buta, Kopi Kelana digelar; kadang dimulai sejak jam 11 malam agar terhindar dari gusuran. Lokasi terakhir Kopi Kelana itu di kegiatan Car Free Day, Dago.
Proyek Kopi Kelana ini bukan sekadar pertukaran informasi akan kopi, melainkan juga politis, di mana kami hendak mempromosikan kampanye Reclaim The Street! Dan, tentu saja mengembalikan ruang publik sebagai lokus sosial. Pada 02 Mei 2011, kami bekerja sama dengan rekan-rekan perupa dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB, menggelar pameran karya visual para perupa tersebut, dan pada saat bersamaan digelar juga demonstrasi penyeduhan kopi dengan berbagai alat, di kitaran Monumen Kubus, Taman Ganesha, Bandung. Acara seharusnya berlangsung selama 7 hari. Tapi, karena terkendala perizinan, perhelatan ini hanya berjalan selama 1 hari.
Sejauh ini, Kopi Kelana sudah menggelar pameran objek visual dan diskusi selain menggelar lapak kopi. Ke depan, selama kami hanya dilarang melalukan aktivitas di jalan, tapi tidak diangkut barang-barang kami, maka akan ada kegiatan lain yang mengiring aktivitas penyeduhan kopi ini.
Suatu saat, semoga Anda dan kami dapat menikmati kopi bersama di ruang publik yang belakangan nyaris punah di kalangan masyarakat urban.
Reclaim the Street!

17 thoughts on “Kopi Kelana & Metacoffee: Philocoffee Project

  1. yuk buka kopi kelana dai bali ,aku mau joinan kalo niat soalnya dari dulu pengen buka cafe di bali tapi belum kesampaian karena sewa tempat yang mahalnya ga kira2

    Like

  2. Pingback: Kilasan Perkembangan Manual Brewing di Indonesia (2010-2012) « Philocoffee Project

  3. Kopi Kelana, mencerahkan! Semarang dekat lho… kapan bisa maen ke CFD Smg?
    Btw bolehkah dibahas lebih lanjut desain “kereta” Kopi Kelana-nya?
    Matur tengkyu🙂

    Like

  4. Aah..senang sekali rasanya bisa dapat inspirasi dari teman teman projeck kopi kelana.ditunggu kehadirannya di balikpapan..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s