PRESSO: Si Cumi-Cumi yang Membuat Espresso (1)

Espresso merupakan jenis minuman kopi paling banyak diminati dan dikenal di antero dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Meski popularitasnya tiada bandingan, pada kenyataannya alat untuk menghasilkan espresso, yaitu mesin espresso, kepemilikannya tidak sepopuler produk yang dihasilkan. Itu bisa dimaklumi mengingat mesin espresso merupakan alat rumah tangga termahal sehingga sedikit dari kalangan rumah tangga yang memiliki mesin espresso standard. Menarik untuk disimak bahwa keluhan akan harga mesin espresso tidak hanya datang dari lingkup rumah tangga, melainkan juga dari kalangan komersial, baik itu kelas besar atau kecil-sedang. Agaknya, hal tersebut boleh jadi yang mendorong orang-orang tertentu untuk mengembangkan alat espresso dengan harga terjangkau, dan bahkan tanpa listrik. Salah satunya adalah alat Presso ini, selain Handpresso dan mypressi TWIST.

Dari segi harga, Presso terbilang terjangkau jika dibanding dengan mesin espresso standard, selain itu cara kerjanya yang tidak membutuhkan daya listrik sedikit banyak menjadi penggoda bagi sebagian orang–bandingkan dengan mesin espresso standard yang mengonsumsi listrik ribuan watt. Dan, yang terpenting, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, Presso mampu menyodorkan espresso bagi para peminatnya, terutama bagi pecinta espresso yang mendambakan membuat espresso di rumah dengan berbiaya rendah.

Selain itu, dengan dimensi dan beratnya yang masih dimungkinkan untuk ditenteng ke mana saja, Presso menjadi alat kopi portabel. Anda bisa bercengkrama di Taman Cikapayang, Bandung, atau Taman Ayodia, Jakarta, dengan teman-teman tanpa pernah kehilangan momen untuk membuat kopi espresso. Selain portabilitasnya, Presso bisa dikatakan ramah lingkungan, dalam hal ini tanpa penggunaan listrik. Anda hanya memerlukan sedikit tenaga untuk menekan pengungkit mekanis untuk menghasilkan tekanan yang dibutuhkan dalam menghasilkan ekstraksi a la espresso. Tekanan Presso itu sendiri bergantung seberapa kuat Anda menekan pengungkit. Menurut siaran resmi dari Presso, tekanan rata-rata terentang dari 5 atm sampai 10 atm.

Kelengkapan Presso

Apakah penggunaan Presso terbilang susah? Pihak Presso sendiri mengklaim bahwa produk mereka merupakah salah satu cara untuk menyiapkan espresso dengan mudah. Tapi, seperti keperigelan pada umumnya, ia tetap membutuhkan latihan. Jika Anda sama sekali belum pernah menggunakan mesin espresso standard, tidak perlu khawatir kebingungan menggunakan alat ini lantaran sudah tersedia buku panduan penggunaannya.

PENGALAMAN KAMI

Ketika pertama kali kami menggunakan Presso kami menggunakan Hario Skerton untuk menggerus biji kopi Sumatran Gourmet dari Macehat Coffee dengan ukuran giling bubuk kopi halus seperti espresso standard. Hasilnya, mampat: air atau ekstraksi tidak mengalir. Lalu, kami ubah ukuran gilingan bubuk kopi lebih kasar daripada sebelumnya. Hasilnya, air atau ekstraksi mengocor begitu saja: under-extraction. Kami haluskan lagi bubuk kopinya, hasilnya: bisa Anda lihat di gambar di bawah nanti.

Dalam persiapannya, kami mencoba membandingkan beberapa cara dan biji kopi (dalam hal ini usia sangraian kopi). Rinciannya sebagai berikut:

Pertama, kami menggunakan Presso tanpa menghangatkan portafilter dan gelas terlebih dahulu. Lalu kami bandingkan dengan hasil ekstraksi yang menghangatkan portafilter dan gelas di awal. Hasilnya berbeda jauh. Lebih baik ekstraksi ketika menghangatkan portafilter dan gelas. Tidak sampai situ, kami juga melakukan pemanasan pada tempat air dituang, di mana bejana tersebut akan lebih hangat dan mampu lebih panjang menjaga kestabilan suhu selama proses ekstraksi. Hasilnya, lebih bagus dengan cara ini: crema lebih tebal dan body lebih full dan dari segi aroma lebih terangkat.

Kedua, dari segi biji kopi. Kami menggunakan biji kopi berusia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan 3 hari. Crema yang dihasilkan itu paling bagus, awet, dan tebal, serta berwarna coklat-keemasan adalah dari biji kopi yang berusia 3 hari🙂 Nah, biji kopi yang usia sangrainya masih muda ini sangat krusial untuk menghasilkan crema yang indah. Lalu, bagaimana dari segi kategori profil sangraian atau agtronnya? Untuk ini kami akan tulis terpisah pada bagian ketiga tulisan ini.

Untuk bagian kedua dari tulisan Presso ini kami membahas hasil kerja Presso untuk cappucino dan coffee latte mengingat Presso menyertakan milk frother. Pada bagian ketiga, kami juga akan mengulas kelemahan alat ini dan menarik tali simpul🙂

20 thoughts on “PRESSO: Si Cumi-Cumi yang Membuat Espresso (1)

  1. Pingback: PRESSO: Si Cumi-Cumi Pembuat Cappuccino (2) « philocoffeeproject

  2. Pingback: Cikaffe « philocoffeeproject

  3. Pingback: mypressi TWIST: Si Kecebong yang Membuat Espresso « philocoffeeproject

  4. Pingback: ROK Espresso Maker |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s