Ada Kopi di Luar Espresso

Selain syphon, produk Hario yang paling fenomenal adalah V60, yaitu perangkat penyeduhan kopi pour over. Di pelbagai kafe terkemuka baik itu di USA, Eropa, dan Asia, dan benua lainnya, produk Hario V60 dengan mudah dijumpai. Meski di kafe-kafe di Indonesia masih jarang ditemukan produk Hario V60, perkembangan pour over V60 cukup menggembirakan, terutama di kalangan rumah tangga. Di Indonesia, espresso masih menjadi primadona tak tertandingi. Bahkan, sebagian besar penyangrai kopi di Indonesia masih memprioritaskan skala dark roast dalam sangraian kopinya, yang cocok untuk metode ekstraksi berbasis tekanan, seperti espresso, moka pot, dan plunger. Bukan kebetulan jika dark roast menjadi pilihan mengingat tiga alat penyeduhan kopi tersebut di Indonesia lebih populer dibanding dengan pour over.

Sejak banyak orang menginginkan membuka kafe sendiri, tapi memiliki modal terbatas, penyajian kopi di kafe-kafe seharusnya bisa lebih variatif. Dengan bertebarnya alat-alat penyeduhan kopi selain espresso, maka pilihan penyajian dasar kopi bagi sebuah kafe lebih banyak. Pada masa sekarang, orang tetap bisa membuka kafe tanpa perlu memiliki mesin espresso, seperti yang dilakukan coffeewar, Kopi Javva, Gerry’s Coffee, dan Kedai Kopi Kemang.

Kami sering mendapatkan pertanyaan seputar alat apa saja yang dibutuhkan untuk membuka kafe. Menghadapi pertanyaan semacam itu, biasanya kami tidak langsung menjawab, alih-alih kami malah bertanya mengenai konsep yang hendak diusung, selain modal yang dimiliki oleh sang bersangkutan. Jika modal terbatas dan bersikeras hendak menyajikan kopi a la espresso based drinks tapi tidak mampu membeli mesin espresso, tentu kami sedari awal menegaskan bahwa tidak bisa membantu mengingat espresso based drinks salah satu ruhnya adalah mesin espresso itu sendiri. Tanpa kehadiran mesin espresso, bagaimana bisa menghadirkan espresso based drinks?

Respons kami akan lain jika konsep kafe yang diusung tidak muluk-muluk, yaitu kopi hitam, dan menu campuran susu yang sederhana, seperti kopi susu a la Vietnam Drip atau coffee au lait. Sayangnya, konsep seperti itu jarang, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali, sampai ke dapur kami. Pertanyaan yang masuk selalu berkutat pada espresso based drinks yang dihasilkan tidak dari mesin espresso. Terus terang, buat kami itu agak sulit, jika pun bisa, tentu jauh dari ideal, jika tidak elok kita katakan terlalu memaksakan diri. Sebenarnya, espresso merupakan salah satu dari metode pengekstraksian kopi. Jika orang yang hendak membuka kafe tersebut mau saja menggeser persepsinya ke tempat lain, seperti kopi hitam dan kopi susu sederhana, maka ada banyak alat penyeduhan kopi yang bisa digunakan dan tetap mampu memberikan cita rasa kopi yang bagus dan maksimal dalam kelasnya. Nah, salah satu metode ekstraksi yang bisa dilirik adalah pour over.

Jika Anda pada saat ini pengin membuka kafe, kenapa tidak mencoba pour over? Di Amerika, yang mau tidak mau harus diakui sebagai kiblat perkembangan kopi, sudah banyak kafe yang menyajikan pour over. Bahkan, kafe dan penyangrai kopi sekelas Intelligentsia saja membuka kafe barunya di Pasadena dengan mengandalkan metode pour over. Sementara itu, Coava Coffee terkenal di kalangan pecinta kopi karena menciptakan alat penyaring untuk alat pour over, Chemex, dan AeroPress.

Sering disebut-sebut bahwa minuman kopi yang laku di kafe bukanlah espresso atau kopi hitam, melainkan ice blended, coffee latte, dan cappucino. Hal itu memang benar. Tapi jangan dilupakan bahwa dalam pola perilaku konsumen terdapat sesuatu yang disebut sistem adaptif kompleks. Ilustrasi sederhananya seperti ini: Ketika Anda mengunjungi suatu kafe, dan Anda tahu di kafe tersebut espressonya tidak enak, tapi berhubung Anda datang ke kafe tersebut karena bertemu orang lain, maka bisa dipastikan Anda akan memilih menu yang bisa diterima oleh lidah atau selera Anda. Dan, rasa manis sirup dan susu itu nyaris digemari banyak orang. Itu satu faktor: adaptif.

Faktor lain adalah soal pembentukkan. Dimaksud di sini adalah karena sebagian besar kafe di sini bertumpu pada espresso dan pada saat bersamaan tidak menyediakan metode penyeduhan lain, maka mau tak mau epsresso menjadi pilihan. Itu akan berbeda ketika Anda mengunjungi coffeewar atau Kopi Javva. Di sana perilaku konsumsi kopi Anda akan terbentuk hanya pada kopi hitam yang terekstraksikan dengan cara pour over, syphon, plunger, dan tubruk.  Tentu tidak mudah membentuk perilaku konsumsi kopi seseorang. Tapi, sebenarnya lebih sulit jika Anda menyajikan kopi espresso based drinks, tapi tanpa mesin espresso.

Masih ada banyak faktor sebenarnya. Tapi, kami hendak menyebut satu lagi di sini. Dalam tradisi filsafat, kebenaran selalu menjadi subjek yang dipertanyakan sampai detik ini. Apakah kebenaran itu bernilai pada dirinya sendiri atau karena banyak orang mengatakan itu benar. Nah, itu bisa kita analogikan ke dalam kopi menjadi seperti ini: Apakah espresso itu harus ada di setiap kafe karena esensi kafe adalah espresso itu sendiri atau karena banyak kafe yang menyajikan espresso?

Masih ada banyak pilihan dalam kopi dan kafe itu sendiri selama Anda mau menyempatkan menengok ke arah lain. Dan, itu tidak hanya pour over saja yang bisa Anda pilih. Kopi Javva misalnya, mereka mengusung konsep pour over dan syphon. Nah, Anda bisa mengikuti jejak mereka. Jika Anda masih menganggap pour over dan syphon itu tidak mudah, kenapa tidak mengikuti jejak coffeewar yang menyajikan dua metode utama bagi pengunjungnya, yaitu tubruk dan plunger (french press)?

Jika Anda percaya, sebagaimana kami, bahwa ada kopi di luar espresso, maka ada banyak cara bagi Anda untuk tetap dapat membuka kafe dan menikmati kopi🙂


7 thoughts on “Ada Kopi di Luar Espresso

  1. Pingback: Kopi Kelana & Metacoffee: Philocoffee Project « philocoffeeproject

  2. Pingback: Cikaffe « philocoffeeproject

  3. Pingback: mypressi TWIST: Si Kecebong yang Membuat Espresso « philocoffeeproject

  4. Pingback: Adi W. Taroepratjeka: Sang Pengelana Kopi « Philocoffee Project

  5. Kebenaran bisa juga berarti setia pada yang asli/original atau ideal. Dalam hal kopi, pertanyaan mengenai yang asli/original bisa dijawab sesederhana bubuk kopi disiram air panas atau yang lebih dikenal dg kopi hitam. Sementara menjawab kopi yang ideal tidak bisa lepas dari referensi cara minum kopi yang kita tahu, baik itu sifatnya turunan/tradisi atau pengalaman pertama kali menikmati secangkir minuman “setan” itu.

    coffeewar mencoba untuk mengenalkan kembali cara menikmati kopi secara ideal menurut orang Indonesia yang kebetulan juga tidak terlalu jauh dari cara yang dipercaya asli/original yaitu kopi hitam dengan metode Tubruk (Indonesia), French Press (Eropa) dan Kanaka/Ibrik (Jazirah Arab). Juga untuk menjadi alternatif bagi sebagian peminum kopi yang, mungkin, merasa tersisihkan karena tidak tersedianya tempat bagi mereka yang tidak meminum kopi berbasis espresso.

    Kehadiran Philocoffee Project seharusnya bisa dilihat sebagai “pencerahan” bagi mereka yang tertarik dengan dunia kopi, kalau boleh dibilang Industri kopi, Indonesia. Bagaimana sebelumnya banyak penggemar kopi yang hendak membuka warung kopi (coffee shop) terbentur dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membeli mesin kopi espresso belum lagi biaya untuk tempat yang harus “keren”.
    Kini dengan banyaknya alternatif yang “diumbar” oleh Philocoffee Project semuanya kembali pada konsep warung kopi seperti apa yang hendak diusung.

    “Anyone can get to know coffee, but what about getting to know those who drink it?
    At coffeewar, we’re more interested in the latter.” ~Yogi D Sumule/coffeewar

    Like

    • “Anyone can get to know coffee, but what about getting to know those who drink it?
      At coffeewar, we’re more interested in the latter.” ~Yogi D Sumule/coffeewar

      Itu kutipan yang sangat menarik. Jika dikaitkan dengan dunia pemasaran yang sudah memasuki era 3.0, jelas kutipan tersebut sangat mengena.
      Jika ditelisik dr segi yang lebih kompleks atau multidimensional, jelas perkembangan kopi tubruk sebagai sajian dasar di kafe merupakan upaya kecerdasan dlm hal beradaptasi yang disebut dgn sistem adaptif kompleks. Dlm jejaringan, adaptasi merupakan kunci. Pertumbuhan gerai kopi lokal belakangan ini yang diasumsikan sbg kafe berdasarkan common sense masa sekarang, jelas memperlihatkan akan adanya adaptasi semacam itu. adaptasi itu diperankan oleh banyak agen, dalam hal ini gerai kopi, konsumen, kemampuan SDM, lingkungan, dll. Sampai sini, konsumen terlibat sebagai agen dalam keberlangsungan suatu gerai kopi.

      Kopi apa pun itu, selama berakar pada konteks di mana gerai itu tumbuh jelas akan bertahan dalam melakukan adaptasi pasar. coffeewar bisa dijadikan sebagai bukti akan hal itu🙂

      Like

  6. Pingback: Kilasan Perkembangan Manual Brewing di Indonesia (2010-2012) « Philocoffee Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s