Hario Syphon

Banyak orang yang masih berdecak kagum akan keindahan rancang bangun alat kopi bernama Syphon. Tidak sedikit orang yang gagal membedakan alat laboratorium dengan alat kopi ketika baru pertama kali melihat Syphon. Pengalaman pertama kami dalam mencicipi kopi hasil Syphon itu terjadi pada 2006, di Salatiga, Jawa Tengah. Salah satu teman kami malah menganggap Syphon adalah jam pasir pada awalnya, tapi anggapan itu sirna ketika mengetahui bahwa pesanan kopi kami dibuat dengan Syphon langsung di hadapan meja.

Beberapa tahun terakhir ini, Syphon sudah banyak dijadikan tawaran selain espresso di berbagai kafe di belahan dunia, termasuk di Indonesia. Alasan kafe-kafe menyodorkan menu kopi hasil Syphon tidaklah mengherankan mengingat karakter kopi yang dihasilkannya cukup menggugah selera, lembut dan terang. Bahkan ada yang melakukan hal terbilang spektakular, yaitu membeli pemanas khusus untuk Syphon dengan harga 20.000 dolar. Blue Bottle-lah pelakunya. Yang sangat menarik, pihak Hario, sebagai manufaktur alat yang dipesan Blue Bottle, melakukan wawancara terhadap sang pemesan. Pihak Hario hendak mengetahui lebih personal dengan siapa mereka bekerja sama. Itu menunjukkan bahwa Syphon bukanlah sekadar uang bagi Hario, melainkan karya. Agaknya, karena alasan itu juga alat Syphon yang banyak digunakan adalah Hario, lalu disusul dengan Yama.

Kebetulan, kami memiliki Syphon keluaran Hario; koleksi kami adalah tipe Technica (TCA), Mocha (MCA), dan Miniphon (DA-1SV). Tipe yang sering kami gunakan adalah tipe TCA, tapi pada bagian penyaring kami ganti dengan penyaring milik MCA. Kami ganti penyaring bawaan TCA lebih karena alasan kepraktisan mengingat penyaring berbahan flannel semakin lama masa pakainya akan semakin tidak elok dipandang mata🙂

Kami menggemari Hario Syphon lantaran karakter kopi yang dihasilkannya cukup bisa diandalkan, lembut, terang, dan sangat aromatik. Dibanding dengan pour over berbasis kertas, seperti V60, hasil Syphon akan tekstur kopi di mulut atau body lebih lemah. Sementara itu, jika dibandingkan pour over berbasis stainless steel, seperti Cafeor, tekstur kopi sama-sama seimbang. Dari segi aroma, hasil Syphon lebih unggul daripada pour over, unggul dalam artian lebih kaya; ada karakter-karakter yang muncul di Syphon tapi tidak di pour over. Dari segi perisa, karakter bebuahan dari kopi hasil Syphon lebih menonjol dibanding dengan pour over.

Cara pemakain Syphon tidak begitu rumit jika kita sudah terbiasa. Dari berbagai cara penyeduhan Syphon, kami lebih menyukai cara berikut:

Pertama, kami mengisi isi tabung bawah dengan air sesuai takaran cangkir yang kami kehendaki, misalnya 1 cangkir. Setelah itu kami panaskan. Selama pemanasan air, tabung atas tidak kami pasang. Untuk air, pada cara yang kami pilih ini tidaklah berlaku perbalah-balahan apakah lebih baik menggunakan air panas atau air dingin.

Proses pemanasan air.

Kedua, selama proses pemanasan, kami mulai melakukan penakaran biji kopi untuk satu cangkir, yaitu 10 sampai 12 gram. Setelah mendapatkan takaran, kami giling.

Biji Kopi Nikaragua kami sedang bergaya ketika ditimbang😀

Ketiga, setelah proses penyiapan biji kopi sampai menjadi bubuk, biasanya air sudah mulai panas. Itu dilihat dari gelembung-gelembung yang bermunculan di air. Begitu melihat banyak gelembung air, kamu mulai melakukan vakum, yaitu memasang tabung atas untuk menciptakan proses vakum. Nah, tidak begitu lama, terjadilah pemindahan air dari tabung bawah ke tabung atas.

Keempat, setelah air terisi cukup di bagian atas, kami mengukur dengan termometer untuk mendapatkan tingkat suhu yang pas bagi kami. Setelah pas, mulailah kami memasukkan bubuk kopi ke dalam tabung atas.

Kelima, proses ekstraksi. Setelah bubuk kopi kami masukkan, mulailah kami mengatur waktu penyeduhan, yaitu 30 detik, sembari mengaduk bubuk kopi dengan cara maju-mundur, bukan memutar, beberapa kali. Dan, kami mulai menurunkan tingkat pembakaran dari microburner agar kopi pas terekstraksi.

Hmmm…

Keenam. Setelah 30 detik berlalu, kami segera matikan kompor-mikro kami, lalu kami aduk lahan per lahan sedemikian rupa agar sebaran ekstraksi tersedot dengan baik begitu air kopi turun ke bagian tabung bawah. Selama proses penyedotan ini, kadang kami menggunakan kain lap basah untuk mendinginkan tabung bawah agar proses penyedotan menjadi lebih cepat lantaran semakin dingin tabung bawah maka semakin kencang penyedotannyai. Dan, tanda proses penyeduhan kopi bagus itu dilihat dari bentuk ampas kopi yang membentuk gundukan seperti gunung.

Nah, baru deh kami tuang. Dan, ah, begitu nikmat kopi itu.

Mau?


6 thoughts on “Hario Syphon

  1. Pingback: philocoffeeproject

  2. Pingback: AeroPress: Alat Kopi Kontroversial « philocoffeeproject

  3. Pingback: Kopi Kelana & Metacoffee: Philocoffee Project « philocoffeeproject

  4. Pingback: Blumchen Coffee « Philocoffee Project

  5. Pingback: Kilasan Perkembangan Manual Brewing di Indonesia (2010-2012) « Philocoffee Project

  6. Pingback: Ibrik: Türk kahvesi (Turkish coffee) | Philocoffee Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s