Kopi Corong: Menggunakan Corong sebagai Alternatif Dripper dalam Pour Over

Cara penyeduhan kopi dengan sistem pour over, sejak beberapa tahun lalu, terutama ketika perusahaan Hario mengeluarkan dripper model V-nya, mulai digandrungi sebagai alternatif penyajian kopi nonespresso. Apa sih pour over? Tunda sejenak definisi yang sudah dikemukakan mengingat penyeduhan kopi, dalam hal ini pour over, merupakan ruang kosong yang masih menjadi medan perebutan makna.

Untuk mengetahui pour over, kita bisa mencari titik kesamaan dari pelbagai alat penyeduhan yang diklasifikasikan sebagai pour over oleh pecinta kopi atau di dunia kopi. Secara umum, peranti pour over adalah Chemex dan gelas penetes lain (dripper) seperti yang dikeluarkan oleh Melita, Hario, Tiamo, Black & Wine, dll. Perlu disebutkan di sini bahwa (nyaris) secara umum vietnam drip tidak dianggap masuk ke dalam sistem pour over, meski ada unsur drip di dalamnya. Dengan mengacu pada pengeluaran vitenam drip dari kategori pour over secara umum, maka mau tidak mau sistem atau sifat drip tidak bisa dijadikan ukuran atau tolok ukur.

Di Jepang, ada seseorang yang mengganti gelas penetes atau wadah penetes (dripper) dengan kawat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyangga kertas penyaring. Selain itu, Chemex di antara peranti pour over lain agak khas, ia tidak memiliki atau menggunakan gelas penetes. Di sini ada ciri umum yang bisa dijadikan pegangan, yaitu kertas penyaring. Sampai sini kita bisa mengambil batasan bahwa pour over, secara teknis, adalah menyeduh kopi dengan kertas penyaring.

Tapi, belakangan, Koava Coffee mengeluarkan produk saringan termutakhir berbahan stainless steel, yang mereka namai Kone. Tidak hanya Koava Coffee, SwissGold pun mengeluarkan penyaring kopi berbahan nonkertas. Sampai sini, kertas penyaring tidak bisa dijadikan tolok ukur yang kukuh. Lantas, apa? Penyaring.

Sistem pour over dari segi alat terletak pada penyaringnya, baik itu berbahan kertas atau stainless steel, bahkan boleh jadi kain perca. Dengan alasan seperti itulah kami bermain-main dengan corong sebagai pengganti gelas penetes yang harganya buat sebagian orang lumayan. Produk Hario untuk ukuran 2–4 gelas dibandrol seharga Rp. 120.000. Berhasilkah? Buat kami berhasil dengan catatan bahwa tidak ada yang selesai dalam proses menikmati kopi. Apa yang kami coba, dengan corong, yang seharga Rp. 1.000 itu, adalah salah satu cara untuk melepaskan dahaga kami akan menikmati kopi.

Betapapun, perlu disebutkan di sini bahwa apa yang kami paparkan di sini baru mengambil satu aspek dari sistem pour over, yaitu peranti atau alat, bukan aspek proses ekstraksinya. Bicara penyeduhan kopi berarti kita membahas soal ekstraksi. Pada titik tertentu, cara memproses ekstraksi kopi bisa dijadikan tolok ukur dalam menamai atau mengategorikan suatu teknik penyeduhan. Oleh karena itu, boleh jadi pour over tidak terletak pada penyaring belaka, melainkan dari proses pengekstraksiannya. Atau, jangan-jangan pour over itu tidak seketat yang dikira pengertiannya. Buat sebagian orang, boleh jadi vietnam drip masuk ke dalam pour over. Kalo kita amati vietnam drip yang diproduksi oleh Sarang Kopi, terdapat plate yang terpisah dengan cup-nya. Ada vietnam drip yang tidak memisahkan plate dan cup-nya, ini biasanya model screw pada tamper-nya. Untuk yang Sarang Kopi itu, tepatnya vietnam drip yang memiliki komponen plate dan cup terpisah selaras dengan hal yang dianggap pour over selama ini: plate bisa dianalogikan sebagai dripper atau gelas penetes atau wadah, dan cup sebagai penyaring. Betapapun, ke depan, hal itu perlu dibicarakan lebih lanjut agar dapat menangkap secara menyeluruh akan apa sih yang disebut pour over itu.

Baiklah, Berikut adalah foto dan langkah kami dalam menjajal pour over dengan corong minyak tanah.

1. Corong yang kami gunakan hanya corong yang terbuat dari plastik. Pada masa mendatang kami akan menjajal corong terbuat dari stainless steel. Agar memudahkan peletakan corong ke dalam gelas, kami memotong bagian bawahnya.

2. Kertas penyaring kami lipat sedemikian rupa agar sesuai dengan bentuk corong. O, iya, lipatan semacam ini bisa jadi alternatif buat dripper model v, tapi dengan menggunakan kertas berbentuk agak limas ini. Dari segi harga lebih murah dan banyak yang menjual.

3. Untuk segi takaran, kami menggunakan biji kopi 10 gram dan air sebanyak 150 ml.

4. Terlepas perdebatan pra-pemanasan perlu atau tidak, kami tetap melakukan itu [di foto urutannya tidak berurutan. Maaf :-)].

5. Setelah itu, kami tuang biji kopi yang baru saja kami giling, lalu kami lakukan pra-pembasahan selama 30 detik.

6. Dan, mulailah langkah selanjutnya sampai selesai segelas kopi. Kami tidak menggunakan teko berceret angsa seperti Hario Buono itu. Rasa akhir boleh jadi beda jika kami menggunakan teko berceret angsa.

7. Biji Kopi yang kami gunakan adalah Daily Blend keluaran Morning Glory, Bandung.

7 thoughts on “Kopi Corong: Menggunakan Corong sebagai Alternatif Dripper dalam Pour Over

  1. Pingback: Hario Coffee Dripper V60 « philocoffeeproject

  2. Pingback: COAVA KONE COFFEE FILTER (1) « philocoffeeproject

  3. Pingback: Kopi Kelana & Metacoffee: Philocoffee Project « philocoffeeproject

  4. Pingback: Cikaffe « philocoffeeproject

  5. Pingback: Hario Coffee Dripper V60

  6. Pingback: Blumchen Coffee « Philocoffee Project

  7. Pingback: Kilasan Perkembangan Manual Brewing di Indonesia (2010-2012) « Philocoffee Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s